Selasa, 12 November 2013
Jurnalisme Biasa Yang Luar Biasa
Apa gambaran Sobat Birru ketika mendengar istilah jurnalisme? Mungkin masih banyak di antara kita yang akan membayangkan para awak media skala besar yang bekerja di koran, tabloid, majalah, televisi ataupun radio. Para wartawan yang tak pernah lepas dari alat tulis dan recorder, kameramen yang kesana-kemari membopong video shooting atau fotografer yang mengabadikan momen-momen tertentu dalam jepretan kamera. Pun yang diliput adalah peristiwa besar seperti korupsi, demonstrasi atau acara kenegaraan misalnya. Tidak ada yang salah dengan semua asosiasi atau gambaran tersebut. Hanya saja ada juga lho jurnalisme dalam pengertian yang lebih longgar seperti yang diusung sobat birru kita kali ini.
Komunitas Djuanda namanya. Komunitas yang terletak di Tangerang Selatan ini merupakan tempat berkumpulnya generasi muda yang memiliki kesamaan hobi jurnalistik. “Berawal dari hobi yang sama, jurnalistik. Jadi awalnya kita sering liputan bareng, hunting foto bareng, membuat film bareng. Akhirnya terbentuklah semacam komunitas belajar jurnalisitik yang sepakat dinamakan Komunitas Djuanda. Nama Djuanda diambil karena letaknya di sekitar jalan Djuanda, itu aja sih filosofinya”. cerita Imam FR Kusumaningati tentang riwayat komunitasnya.
Yang menarik dari komunitas jurnalisme yang berdiri pada tahun 2009 ini adalah dijadikannya citizen journalism sebagai mazhabnya. “Citizen journalism atau jurnalisme warga kalau bisa dibilang mazhab komunitas kita. Jadi itu yang membedakan dengan komunitas-komunitas jurnalistik yang lain”. Tutur salah satu pengurus Komunitas Djuanda ini.
Lantas apa sih yang dimaksud citizen journalism ini? Menurut Imam citizen journalism atau jurnalisme warga adalah suatu bentuk kegiatan jurnalisme yang dilakukan oleh warga biasa. Semacam jurnalisme dari, oleh dan untuk masyarakat. “Jadi meliput hal-hal yang ada di sekitar; apa yang ditemui serta apa yang didapatkan hari itu. Di luar sana mungkin ada kasus korupsi atau kisruh di DPR. Bagi citizen journalism hal seperti itu terlalu jauh. Yang terpenting sebagai warga, kita meliput hal yang terjadi di sekitar kita. Dan saya kira justru hal-hal yang terdekat dengan kita memiliki nilai tersendiri dan merupakan problem yang riil. Jadi yang diliput bukan sesuatu yang mengawang-awang di sana, jauh”.
Semangat jurnalisme warga adalah berbagi apa, kapan dan di mana saja. Tentu saja yang dibagi adalah informasi yang bermanfaat bagi publik. “Yang ingin dibangun dari aktivitas ini adalah spirit to share. Jadi berbeda dengan jurnalis professional yang melakukan liputan atas penugasan dari redaksi”.
Menjadi seorang citizen journalism sangatlah mudah. Menurut Imam hobi ini semakin dipermudah dengan hadirnya media-media online seperti Facebook, Twitter dan Blog misalnya. Jadi sejauh yang di-share mangandung nilai guna bagi siapa saja maka para Facebooker dan Blogger sudah bisa dikatakan sebagai jurnalis warga. “Saya bisa katakan bahwa update status baik di Facebook maupun Twitter termasuk kategori jurnalisme warga. Bahkan sekarang sudah banyak media mainstream yang membuka diri untuk menampung laporan dari citizen journalism”.
Sudah banyak liputan-liputan Komunitas Djuanda yang baik langsung maupun tidak telah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Tangsel pada khususnya. Misalnya ketika meliput persoalan sampah di pasar Ciputat dan Setu Kuru. Biasanya hasil liputan-liputan yang telah dilakukan diposting ke galeritangsel.com yang merupakan portal milik komunitas atau terkadang juga diadakan pemutaran video dokumenter di lingkungan setempat.
Menarik bukan hobi jurnalisme yang satu ini. Di samping sebagai jurnalisme biasa, artinya siapa saja bisa melakukannya, namun yang terpenting adalah kontribusi positif bagi lingkungan sekitar. Bahkan lebih jauh Imam mengungkapkan “Masyarakat mulai jenuh dengan pemberitaan media mainstream. Selalu ada kepentingan di balik pemberitaan. Ada udang di balik batu. Hadirnya citizen journalism bisa menjadi alternatif”. Jadi buat Sobat Birru yang mulai tertarik tidak ada salahnya mengikuti jejak yang telah diukir Komunitas Djuanda ini.
Sumber: Lazuardi Birru
Senin, 11 November 2013
Festival Film Mahasiswa Tumbuhkan Kreativitas Seni Mahasiswa
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Festival Film Mahasiswa
Indonesia (FFMI) 2013. Festival ini merupakan ajang penghargaan pertama
kali bagi insan dunia perfilman dari kalangan mahasiswa di Indonesia.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Ditjen Dikti Kemdikbud, Illah Sailah mengatakan, festival ini untuk
menumbuhkan kreativitas mahasiswa dalam bidang seni animasi dan
perfilman, sehingga mahasiswa mendapat wadah untuk mengembangkan
kreativitasnya.
“Mahasiswa harus mampu memproduksi
film-film yang memiliki nilai edukasi. Saya berharap melalui karya dan
kreatifitasnya mahasiswa Indonesia dapat berkontribusi dalam mewujudkan
bangsa Indonesia yang beradab,” ujar Illah dalam Acara Pengumuman
Pemenang FFMI 2013, di Gedung D Kemdikbud, (28/10/2013).
Menyambut ASEAN Community 2015, Illah
mengajak mahasiswa Indonesia untuk meningkatkan kreativitas dan
produktifitas dalam dunia perfilman, sehingga industri perfilman
Indonesia dapat bersaing di tingkat ASEAN.
“Ke depan, ajang penghargaan ini tidak
hanya bagi mahasiswa Indonesia, namun juga mahasiswa dari negara-negara
ASEAN lainnya,” katanya.
Film berjudul A Note of Love karya
mahasiswa Universitas Hasanuddin meraih terbaik I dalam kategori fiksi.
Untuk kategori dokumenter terbaik I diraih mahasiswa Universitas Esa
Unggul dengan film berjudul Sumber Kehidupan. Sedangkan terbaik I dalam
kategori animasi diraih mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro dengan
film berjudul Layang-layang.
Para pemenang mendapatkan uang tunai
sebesar Rp 15 juta. Selain itu, para pemenang juga mendapat plakat
penghargaan dari Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti
Kemdikbud.
Sebanyak 101 Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia turut serta mendaftar
dalam ajang ini. Sampai batas waktu yang ditentukan, dewan juri menerima
40 karya film dari berbagai perguruan tinggi. Film-film tersebut dibagi
ke dalam tiga kategori, yakni kategori fiksi, kategori dokumenter dan
kategori animasi.[as]
Sumber: Lazuardi Birru
Minggu, 10 November 2013
Cara Menghadapi Ujian
Pada umumnya, jika orang mendengar kata
ujian atau akan menghadapi ujian, seperti mau perang. Panik atau seperti
menghadapi momok yang sangat menakutkan dan menyeramkan sekali.
Apalagi, menjelang ujian belum mempunyai persiapan yang matang. Mungkin
anda pun mengalami kepanikan luar biasa, begitu jadwal ujian sudah mepet
di depan mata. Anda menjadi tegang dan tidak tahu mana lagi yang harus
didahulukan untuk dipelajari. Ada beberapa tips untuk menghilangkan
ketegangan-ketegangan ketika akan menghadapi ujian, sebagai berikut:
Pembentukan rasa percaya diri
Rasa percaya diri merupakan sumber energy
dan sikap optimis terhadap kemampuan diri sendiri untuk dapat
menyelesaikan segala sesuatu dan kemampuan untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian diri pada situasi yang akan dihadapi.
Persiapan
Persiapan jangka panjang dimulai sejak
awal pelajaran dengan belajar secara terencana, sistematis, teratur dan
disiplin. Persiapan jangan pendek dilakukan 1-2 bulan menjelang ujian.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu mengetahui acuan
pembobotan soal ujian, mengorganisasi waktu belajar, menjaga kebugaran
dan kesehatan, dan mengistirahatkan pikiran dari kesibukan belajar.
Tahap menjelang ujian
Pada hari pelaksanaan ujian dilaksanakan,
beberapa ketentuan yang harus anda lakukan antara lain; persiapkan
peralatan yang dibutuhkan untuk ujian dengan baik, dating ke ruang ujian
10 menit menjelang ujian, sebelum berangkat dari rumah menuju lokasi
ujian, anda harus sarapan terlebih dahulu, dan anda harus menghindari
kebiasaan buruk membahas dengan teman-temannya perkiraan soal yang akan
diujikan menjelang ujian dilaksanakan.
Tahap berlangsung proses ujian
Ketika proses ujian berlangsung ada harus
menulis nomor ujian atau nama dengan jelas dan terang pada kolom yang
telah disediakan pada lembar jawaban yang dibagikan. Bacalah
petunjuk-petunjuk ujian dengan teliti sebelum anda menjawab pertanyaan,
bacalah soal-soal ujian dengan teliti sebelum menjawab dan pahami benar
apa inti yang ditanyakan, kerjakan soal-soal yang lebih mudah terlebih
dahulu dengan tenang dan berpikir, sediakan waktu 5-10 menit untuk
mengoreksi lembar jawaban apakah penulisan jawaban sudah sempurna atau
belum, jika anda menyelesaikan jawaban sebelum waktunya habis,
pergunakan waktu yang tersisa untuk mengoreksi jawaban-jawaban yang
telah ditulis, periksa kembali nama anda, nomor ujian dan lain-lain
sebelum lembar jawaban diserahkan kepada pengawas ujian.
Pasca ujian
Jika anda mengalami kegagalan atau tidak
lulus dalam menghadapi ujian, anda tidak boleh putus asa. Kegagalan
bukan akhir dari segala-galanya, melainkan hal yang biasa dalam belajar
dan yang penting dibangkitkan adalah kesadaran untuk mengevaluasi
sebab-sebab kegagalan tersebut. Dari kegagalan tersebut dapat dijadikan
acuan untuk memperbaiki perencanaan dan sistematis belajar anda untuk
mengikuti ujian mendatang.
Sumber: Lauardi Birru
Jumat, 08 November 2013
ISLAM DAN KEMAJUAN TEKNOLOGI
Di era modernisasi sekarang ini,
kehidupan kita tidak terlepas dari teknologi. Dalam kehidupan kita
sehari-hari banyak sekali hasil kreasi teknologi yang telah ditemukan
dan dikembangkan oleh para ilmuwan dunia, misalnya alat komunikasi (handphone), komputer,
pendingin ruangan dan lain sebagainya yang sering digunakan. Kreasi
tersebut merupakan bagian dari fakta teknologi yang tak bisa dipungkiri.
Pesatnya kemajuan teknologi juga sudah
terasa di semua aspek kehidupan kita. Para pengembang teknologi memang
sebagian besar seorang non-muslim, tetapi bukan berarti umat Islam tidak
bisa menjadi pengembang teknologi. Dalam Islam jika ingin
menciptakan/mengembangkan teknologi terlebih dahulu harus dipikirkan
manfaatnya, apakah lebih banyak manfaat kebaikannya atau justru lebih
banyak kejelekannya.
Setiap teknologi yang dikembangkan tentu
tidak hanya mengandung sisi baik saja, tapi juga ada dampak buruknya.
Hal itu seyogyanya dipertimbangkan oleh para pengembang teknologi. Dalam
kaidah fiqih Islam “Mencegah kerusakan dari sesuatu harus lebih didahulukan dari pada menarik manfaat dari sesuatu tersebut”. Kaidah fiqih tersebut yang melandasi kenapa tidak banyak ilmuan-ilmuan muslim mengembangkan teknologi informasi.
Sebagai umat muslim yang hidup di era
modernisasi, kita juga tidak harus menutup mata dengan kemajuan
teknologi yang ada. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk kepentingan
agama, misalnya sebagai sarana dakwah dan syiar Islam dan lain
sebagainya. Karena itu umat muslim mempunyai keharusan untuk belajar
mengembangkan teknologi, agar tidak kalah dengan para saintis
non-muslim. Tetapi tentu saja berbeda dengan teknologi yang dikembangkan
oleh para ilmuan Barat.
Teknologi yang dikembangkan oleh para
ilmuan muslim harus berdasarkan kaedah-kaedah ajaran agama, agar
bermanfaat bagi agama dan umat manusia. Bayangkan jika para cendekiawan
muslim mampu menciptakan dan menguasai teknologi canggih yang bermanfaat
bagi umat manusia maka syiar Islam pun akan berkembang pesat. Islam
merupakan agama yang tidak mendikotomikan keilmuan antara ilmu umum dan
ilmu agama.
Untuk menjadi pengembang teknologi
tentunya terlebih dahulu kita harus mempelajari ilmunya meski dari
non-muslim. Agama mengajarkan menimba ilmu bisa dari siapa pun, guru,
orang tua, teman sebaya, bahkan dari orang yang berbeda agama sekali
pun. Namun, ketika kita belajar kepada non-muslim harus mengetahui
batasan-batasan dan etikanya. Kita diperbolehkan menuntut ilmu kepada
non-muslim hanya terbatas pada ilmu duniawi, tapi bukan urusan ukhrowi.
Untuk ilmu akhirat atau ilmu agama kita tidak diperbolehkan
mempelajarinya kepada umat non-muslim. Seperti firman Allah dalam ayat
terakhir Surat Al-Kafiruun :
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Q.S. Al Kafirun: 6).
Dalam ayat tersebut sudah sangat jelas
bahwa tidak ada toleransi dalam mempelajari agama. Islam juga
mengajarkan bahwa setiap muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu sejak
dilahirkan hingga akhir hayat, baik ilmu duniawi maupun ilmu agama. Jika
sudah mengetahui ilmunya maka menjadi suatu keharusan bagi kita untuk
mulai menjadi pencipta-pencipta teknologi di masa sekarang ini, agar
bukan hanya sekedar pengguna dari produk teknologi yang ada.
Dengan mulai menciptakan inovasi-inovasi
baru teknologi, setidaknya kita sudah mengenalkan bahwa Islam bukanlah
agama yang ajaran-ajarannya hanya terpaku pada ilmu-ilmu ketuhanan
(agama) saja, tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi yang sifatnya
duniawi. Bukan hal yang tidak mungkin juga jika suatu saat Islam akan
menjadi agama yang mampu bersaing dan bahkan bisa menguasai pasar-pasar
teknologi internasional, tapi tentu saja masih dalam koridor-koridor
atau hukum-hukum keIslaman. Semua itu hanya akan terwujud jika para umat
muslim terutama generasi muda muslim mulai menciptakan inovasi-inovasi
baru dalam bidang teknologi bukan hanya sekedar menjadi pengguna saja.
Mengembangkan potensi-potensi yang telah
Allah SWT berikan pada diri kita dengan mulai menciptakan hal-hal baru
dalam bidang teknologi demi kelancaran, kemajuan serta kemaslahatan umat
muslim di era modernisasi ini, adalah sebuah interpretasi yang harus
dilakukan sebagai agent of change. Allah SWT berfirman :
“Niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Mujaadilah:11)
Sudah saatnya umat muslim bangkit
membuka mata dan mulai melebarkan sayap untuk sebuah era baru teknologi
yaitu era teknologi Islam. Sudah saatnya umat muslim mulai menyuarakan
dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui teknologi modern. Sudah
saatnya juga para cendekiawan muslim mulai meningkatkan potensi-potensi
diri yang ada. Jika tidak kita mulai dari sekarang maka kapan lagi? kita
tidak bisa selamanya terdiam hanya sebagai penonton dan pengguna
teknologi yang telah berhasil dikembangkan oleh ilmuan Barat.
Teknologi Islam yang berlandaskan kepada
Al-Qur’an akan sangat jauh lebih bermanfaat. Maka mulailah memahami dan
mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri kita, mulailah
perubahan itu pada diri kita sendiri dan mulai pada saat ini. Wallahu’Alamu bisshawaaf.
Sumber: Lazuardi Birru
Kamis, 07 November 2013
Cara Mengatasi Rasa Tidak Suka pada Guru
Rasa tidak suka siswa pada guru terbentuk dari pengkristalan perasaan kecewa, ketidakpuasan, iri hati dan marah yang menjadi wujud antipati dan kebencian. Kebencian pada guru membawa konsekuensi turut dibenci dan tidak disukainya pelajaran yang diberikan guru tersebut. Secara jujur, yang akan rugi adalah siswa sendiri.
Mencari kompensasi untuk mengalihkan rasa
kebencian pada guru dengan membolos, membuat kegaduhan dengan cara
mengganggu teman, ketika berlangsung kegiatan belajar, menantang guru,
mengobrol, makan-makanan ringan, mondar-mandir dalam ruangan kelas atau
mencorat-coret buku tentu tidak bijaksana dan bukan jalan keluar yang
baik, bahkan hanya akan merugikan diri Anda sendiri. Lebih baik, Anda
mengubah kebencian dan antipati pada guru tersebut menjadi sumber
kekuatan Anda dalam belajar. Untuk itu Anda harus melakukan beberapa
hal, sebagai berikut:
Membuang rasa benci dan antipati
Rasa benci dan antipati terhadap guru
harus dilenyapkan dari lubuk hati Anda. Kita harus melihat dan menerima
kenyataan bahwa guru ada manusia biasa yang tak luput dari kesulitan.
Ketika guru mengajar juga mengalami kesulitan dalam mempersiapkan diri
karena beberapa factor yang menghimpitnya. Begitu juga, dia gagal
menjembatani jalan pikiran Anda sehingga Anda mengalami kesulitan dalam
menguasai materi yang disajikannya. Jika Anda tetap memupuk rasa benci
dan antipati pada guru, maka akan semakin menjauhkan Anda dari guru,
sehingga pelajaran bisa gagal.
Mengubah cara pandang tentang hukuman
Anda harus dapat mengubah cara pandang
mengenai hukuman yang diberikan guru kepada Anda. Cobalah melihat
hukuman sebagai proses penyadaran dan tantangan bagi Anda untuk lebih
giat belajar. Dalam belajar Anda harus mengenyampingkan rasa malu,
amarah, dan rasa sakit hati. Hukuman merupakan cambuk dan tantangan
untuk dapat mengembangkan rasa ingin tahu dan bagaimana cara menguasai
materi pelajaran.
Mengembangkan pola belajar aktif
Pola belajar yang selama ini bersifat
pasif harus diubah menjadi bersifat aktif. Saat ini Anda harus berani
mengungkapkan ketidaktahuan dan keingintahuan kepada guru dengan banyak
mengajukan pertanyaan yang bersangkutan dengan materi yang diajarkannya.
Pola belajar aktif akan membuat guru lwbih mwngoptimalkan pemberian
ilmu yang dikuasai oleh guru. Suasana belajar pun akan berubah menjadi
lebih bergairah dan merangsang motivasi belajar.
Belajar jangan dengan pikiran kosong
Ketika Anda mengalami peristiwa belajar
di sekolah tidka boleh dengan pikiran kosong. Caranya, sebelum pelajaran
yang akan dipelajari terlebih dahulu dipelajari di rumah. Hal yang
belum dipahami di rumah nanti bisa ditanyakan kepada guru di sekolah.
Memiliki teknik belajar yang baik
Anda harus memiliki teknik belajar yang
baik. Dengan memiliki teknik belajar yang baik akan membantu Anda cara
mengoperasinalkan cara bernalar, menyusun kerangka berpikir langkah demi
langkah, dan bagaimana mengaktifkan simpul-simpul rasa ingin tahu Anda.
Berpikir kritis
Anda harus membiasakan diri untuk
berpikir kritis. Berpikir kritis di sini bukan membiasakan diri
melakukan perdebatan namun untuk menggali suatu pemahaman yang utuh dan
mendalam. Berpikir kritis di sini artinya mempertanyakan segala hal yang
berhubungan dengan yang dipelajari secara detail. Pertanyaan yang
dikembangkan untuk mengetahui manfaat, proses terbentuknya, hubungannya
dengan lain hal, dan cara mengerjakan. Semakin aktif bertanya, semakin
banyak Anda tahu dan guru pun bersemangat untuk menjelaskan materi
pelajaran secara menyeluruh.[]
Sumber: Lazuardi Birru
Selasa, 05 November 2013
SIKAP PADA ORANG KAFIR
Secara harfiyah, kafir berasal dari kata kafara
yang artinya menutup, yakni menutup hati dari keimanan dan ketundukan
kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang benar. Orang yang bersikap kufur
kepada Allah dalam arti tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan yang
benar disebut dengan kafir. Sikap dan perbuatan yang mencerminkan
kekufuran merupakan sesuatu yang tidak disukai Allah SWT, karenanya Dia
tidak suka kepada orang yang kafir, Allah SWT berfirman:
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika
kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
kafir”. (QS Ali Imran [3]:32).
Sejak awal misi dan dakwahnya,
Rasulullah SAW selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT agar memiliki
sikap yang tegas terhadap orang-orang kafir dalam memegang
prinsip-prinsip keislaman, bahkan ketegasan ini tidak hanya harus
dimiliki oleh seorang Nabi, tapi juga oleh setiap muslim yang menjadi
pengikut Nabi dan pelanjut risalahnya. Karena itu, kaum muslimin harus
menunjukkan loyalitas (kesetiaan) kepada sesama muslim, bukan kepada
orang kafir, meskipun ia saudara sendiri dari sisi hubungan darah. Allah
SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu
pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas
keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka
pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS At
Taubah [9]:23).
Agar kita tidak termasuk orang yang
setia kepada orang kafir, perlu kita pahami apa saja bentuk-bentuk
kesetiaan pada orang kafir itu. Paling tidak, ada empat bentuk kesetiaan
pada orang kafir yang bisa kita rujuk kepada Al-Qur’an dan Al Hadits.
1. Menyerupai Sikap dan Tingkah Laku Kekafiran.
Menyerupai orang kafir dalam sikap dan
tingkah laku yang bertentangan dengan Islam membuat seorang muslim
termasuk ke dalam golongan orang kafir, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia bagian dari mereka (HR. Abu Daud).
Menyerupai hal-hal yang dilakukan orang kafir namun tidak bertentangan dengan ajaran Islam tidaklah termasuk dalam kategori tasyabbuh
atau meniru-niru mereka, misalnya orang kafir pakai jas dan dasi, tidak
mengapa orang Islam menggunakannya juga. Namun bila orang kafir baik
lelaki maupun wanitanya membuka aurat lalu kaum muslimin menirunya, maka
inilah namanya meniru-niru mereka sehingga hal itu termasuk setia
kepada mereka, begitulah seterusnya dalam segala hal yang bertentangan
dengan nilai-nilai akidah, syari’ah dan akhlak yang bertentangan dengan
Islam, meskipun mereka yang kafir itu bukan dari barat.
2. Menjadikan Teman Kepercayaan
Menjadikan orang kafir sebagai teman
kepercayaan membuat mereka dijadikan sebagai tempat untuk konsultasi
guna membantu memecahkan persoalan umat Islam yang membuat dibocorkannya
rahasia umat Islam kepada mereka, padahal mereka membenci umat Islam,
sehingga bisa jadi solusi atau pemecahan masalah yang diberikannya
justeru akan merusak umat Islam. Karena itu jangan sampai seorang muslim
menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan apalagi dikalangan
muslim sebenarnya ada yang mampu dan lebih pantas menjadi teman
kepercayaan, Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar
kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan)
kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang apa yang menyusahkan kamu.
Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan
oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu
ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”. (QS Ali Imran [3]:118).
Mengawali komentarnya terhadap ayat di
atas, Quraish Shibab dalam tafsirnya menyatakan: Harta dan kecantikan
atau ketampanan, apalagi bila ditawarkan kepada seseorang dapat
menjerumuskannya. Orang-orang kafir tidak segan-segan menggunakan
keduanya untuk menarik hati kaum muslim, sehingga daya tarik itu
melahirkan persahabatan yang sedemikian kental sampai-sampai
rahasia-rahasia yang tidak sewajarnya diketahui pihak lainpun dibocorkan
kepada mereka yang bermaksud buruk itu.
3. Memuji Kemajuan yang Mereka Capai.
Dalam perkara duniawi kita akui bahwa
orang-orang kafir apalagi pada zaman sekarang memperoleh kemajuan yang
luar biasa, khususnya dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini
membuat mereka termasuk dalam menata kehidupan di negerinya bisa
berwujud pada keteraturan dan kedisiplinan yang serba otomatis dengan
daya dukung teknologi itu. Hal ini memang membuat umat manusia menjadi
kagum kepada mereka sehingga tidak sedikit dari kaum muslimin yang
menunjukkan kekaguman itu secara berlebihan hingga memuji mereka
“setinggi langit”, padahal banyak aspek kehidupan mereka yang lebih
prinsip dan berharga sebagai manusia justeru mengalami kehancuran.
Loyalitas umat Islam terhadap orang
kafir sampai ditunjukkan dalam bentuk pujian yang tidak berdasar seperti
kalimat “mereka sudah Islam, hanya belum bersyahadat”. Pujian seperti
ini membuat umat Islam lainnya menjadi minder sebagai muslim, padahal
sebenarnya hal itu hanya kemajuan dan kenikmatan yang kecil, Allah SWT
berfirman:
“Dan janganlah kamu tujukan kedua
matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari
mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami coba mereka dengannya.
Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thaha
[20]:131).
Ayat di atas menyebutkan bahwa kemajuan
yang mereka capai itu seperti bunga kehidupan, sebagaimana bunga yang
hanya beberapa saat mekar dan indah, lalu setelah itu habis, kesemua itu
sebenarnya untuk menguji kaum muslimin, apalagi sebenarnya umat Islam
juga bisa mencapai ilmu dan teknologi sebagaimana yang mereka capai,
bahkan lebih hebat dari itu.
4. Memintakan Ampun bagi Mereka
Bentuk loyalitas muslim terhadap orang
kafir yang juga sangat tidak dibenarkan adalah memohonkan ampun untuk
mereka, padahal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan, karena
tidak ada ampunan untuk orang yang mati dalam kemusyrikan. Allah SWT
berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni
dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa
selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah
tersesat sejauh-jauhnya.” (QS An Nisa [4]:116).
Karena Allah SWT tidak akan mengampuni
orang kafir dengan sebab kemusyrikannya, maka seorang muslim, bahkan
termasuk Nabi tidak boleh berdo’a memintakan ampun bagi mereka meskipun
mereka adalah anggota keluarga kita sendiri, apalagi bila sudah
meninggal dunia. Allah SWT berfirman:
“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan
orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi
orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik
itu adalah penghuni neraka jahannam”. (QS At Taubah [9]:113).
Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi
kita bahwa loyalitas kepada kaum muslimin harus kita tunjukkan,
sedangkan kepada orang kafir harus kita hindari, namun bukan berarti
kita tidak boleh bergaul dengan mereka, pergaulan kita dengan
orang-orang kafir hanyalah sebatas hubungan kemanusiaan, itupun tidak
sampai melanggar ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Sumber: Lazuardi Birru
Minggu, 03 November 2013
Jihad
Jihâd secara bahasa berasal dari kata kerja ja-ha-da yang berarti jadda, bersungguh-sungguh dan bekerja keras. Jihâd juga berarti bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mencapai hasil yang optimal. Al-Qur`an menyebut istilah jihâd dengan segala perubahan bentuknya sebanyak 36 kali. Melalui ayat-ayat jihâd pada beberapa surah tersebut Al-Qur`an menjelaskan makna jihâd dengan konteks pembahasan yang beragam, namun semuanya menjelaskan bahwa jihâd menurut Al-Qur`an adalah perjuangan untuk mewujudkan al-salâm,al-salâmah,al-shalâh dan al-ihsân, yaitu
perjuangan untuk mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan perbaikan
kualitas hidup kaum Muslimin sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Perjuangan
untuk mewujudkan pesan perdamaian Al-Qur`an ini dinamakan jihâd fî sabîlillâh atau perjuangan pada jalan Allah.
Jihad pada jalan Allah dapat dilakukan
dengan dua cara.Pertama dengan perang melawan musuh-musuh Allah. Kedua,
dengan memperbaiki kualitas sosial kaum Muslimin seperti: (1) Perjuangan
untuk melindungi dhu’afa dari kekufuran, kefakiran, kemiskinan, dan
ketertinggalan. (2) Mendorong kaum muslimin untuk mengamalkan agama
dengan sebaik-baiknya. (3) Membangun sarana dan prasarana dakwah,
pendidikan, pusat penelitian dan pengembangan sains dan teknologi. (4)
Membangun kualitas hidup kaum muslimin agar menjadi umat yang cerdas
secara intelek, emosi, dan spiritual. (5) Mendorong umat agar peduli
terhadap masalah-masalah sosial dan kemanusiaan guna mewujudkan
perdamaian bagi seluruh umat. (6) Menyadarkan umat tentang perlunya
menjaga kesehatan secara kuratif, preventif dan promotif, agar umat
Islam menjadi komunitas yang sehat dan memiliki SDM yang unggul.
Al-Qur`an membimbing kaum Muslimin
menjadi umat cinta damai, bahkan menjadi pejuang perdamaian; namun
Al-Qur`an pun Muslimin membolehkan kaum Muslimin untuk memerangi siapa
saja yang tidak memiliki niat baik untuk berdamai. Perang menurut
Al-Qur`an itu merupakan pilihan paling akhir, pintu darurat yang hanya
diizinkan apabila kaum Muslimin dizalimi, dan diperlakukan tidak adil.
Oleh sebab itu, perang hanya diizinkan untuk membela diri, melindungi
kaum dhu’afa dan membela hak-hak kaum tertindas dengan tata cara dan
etika perang yang profesional, santun dan ramah dengan tidak melampaui
batas (QS. Al-Baqarah/2: 190). Kaum Muslim bukan aggressor.
Cinta damai dan bersedia berdamai dengan siapa saja, tetapi memiliki
harga diri. Jika dizalimi akan bangkit untuk membela diri, termasuk
dengan perang. Perang merupakan alternatif terakhir dan jihad bukan
hanya dengan perang.
Sumber: Lazuardi Birru
Langganan:
Postingan (Atom)