Selasa, 22 Oktober 2013

Cara Membangun Konsentrasi Belajar



Proses belajar membutuhkan konsentrasi belajar para pelakuknya. Tanpa konsentrasi belajar, maka peristiwa belajar sesungguhnya tidak ada. Namun, tidak sedikit orang yang mengalami masalah atau kesulitan konsentrasi ketika belajar. Tanpa konsentrasi belajar, maka hasil belajar pun tentu sangat rendah atau tidak optimal. Untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi belajar, maka dibutuhkan langkah-langkah berikut:

Kesiapan belajar
Sebelum melakukan aktivitas belajar kita harus benar-benar dalam kondisi fresh (segar) untuk belajar.  Untuk siap melakukan aktivitas belajar ada dua hal yan perlu diperhatikan, yaitu kondisi fisik dan pasikis. Kondisi fisik harus bebas dari gangguan penyakit, kurang gizi dan rasa lapar. Sedangkan kondisi psikis harus steril dari gangguan konflik kejiwaan, tekanan masalah atau ketegangan emosional seperti gelisah, takut, cemas, kecewa, marah dan lainnya. Masalah konflik kejiwaan atau perasaan negatif harus diselesaikan terlebih dahulu. Pikiran harus benar-benar jernih, jika hendak melakukan kegiatan belajar.

Lingkungan belajar harus kondusif
Belajar membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk memperoleh hasil belajar secara optimal. Harus diupayakan tempat dan ruangan yang apik, teratur, dan bersih. Suasana pun harus nyaman untuk belajar.

Menanamkan minat dan motivasi belajar dengan cara mengembangkan imajinasi berpikir dan aktif bertanya
Untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar, maka perlu mengetahui, apa yang dipelajari? Untuk apa mempelajari materi pelajaran yang hendak dipelajari? Apa hubungan materi pelajaran tersebut dengan kehidupan sehari-hari? Bagaimana cara mempelajarinya? Kemudian kembangkan hasrat ingin tahu lebih lanjut dengan cara aktif bertanya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Cara belajar yang baik
Untuk memudahkan konsentrasi belajar dibutuhkan panduan untuk pengaktifan cara berpikir, penyeleksian focus masalah dan pengarahan rasa ingin tahu. Cara belajar yang baik tentu harus memuat tujuan yang hendak dicapai dan cara-cara menghidupkan dan mengembangkan rasa ingin tahu, hingga tuntas terhadap apa yang hendak dipelajari. Tugas kita untuk menemukan cara belajar atau metode belajar yang tepat sesuai dengan karakter kita.

Belajar aktif
Jika kita sulit berkonsentrasi belajar di sekolah atau sulit mengerti apa yang dijelaskan guru, maka kita harus dapat mengembangkan pola belajar aktif. Kita harus aktif belajar dan berani mengungkapkan ketidaktahuan pada guru atau teman. Kita harus membuang rasa sungkan, takut, malu pada guru. Sebab guru tidak akan memberi hukuman pada kita yang proaktif dalam belajar.

Perlu disediakan waktu untuk menyegarkan pikiran saat menghadapi kejemuan belajar
Saat kita menghadapi kesulitan mempelajari materi pelajaran, kadang kala menimbulkan rasa jemu dan bosan untuk berpikir. Jika hal ini terjadi, maka jangan paksakan diri kita untuk terus melanjutkan belajar. Jika dipaksakan akan menimbulkan kepenatan dan kelelahan sehingga menimbulkan antipati untuk belajar. Untuk itu, kita harus menyediakan waktu 5-10 menit untuk beristirahat sejenak dengan mengalihkan perhatian pada hal lain yang bersifat menyenangkan dan menyegarkan atau melakukan relaksasi.
Dengan memperhatikan langkah-langkah tersebut, kita akan terpandu menyusun kerangka berpikir, terarah pada objek yang akan dipelajari secara taktis, metodis dan member keluluasaan mengembangkan pola nalar yang objektif sehingga kesulitan konsentrasi belajar dapat diatasi.

Sumber: Lazuardi Birru

Minggu, 20 Oktober 2013

Menyambut Kepulangan Pak dan Bu Haji


13 Dzulhijjah adalah waktu terakhir di mana jamaah calon haji mengerjakan rukun dan wajibnya ibadah haji. Di Indonesia, 13 Dzulhijjah 1434 jatuh pada hari Jumat 18 Oktober 2013. Menurut rencana, kelompok terbang (Kloter) pertama Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG/01) akan menjadi rombongan pertama jamaah haji Indonesia yang dipulangkan ke Tanah Air. Saat itulah, secara kultural mereka “sah” dipanggil dengan sebutan “Pak Haji” “Bu Haji” maupun lainnya.

Di belahan negeri lain, nyaris tidak ditemukan “haji” dijadikan sebagai gelar. Bagi kelompok-kelompok yang gemar membid’ahkan kelompok lain yang tidak sepandangan dengan mereka, tentu panggilan ini adalah bid’ah. Namun beberapa orang dalam kelompok tersebut nyatanya tidak memersoalkan saat dirinya dipanggil dengan sebutan “Pak Haji”.

Terlepas dari itu, haji adalah ibadah sakral yang tidak semua orang sanggup menjalankannya. Sudah semestinya ibadah yang menjadi gelar personal tersebut memberi pengaruh yang signifikan atas perbaikan moral pemilik gelar. Yang sebelumnya, rajin korupsi, siapa tahu lantaran di Tanah Haram ditegur oleh Allah SWT dengan cara tertentu, sesampainya di tanah air bertobat dengan mengembalikan semua uang hasil korupsinya.

Namun lantaran syarat “kesanggupan” (istitho’ah) itu, sebagian orang justru menjadi takabur, merasa lebih baik ketimbang tetangganya yang belum berhaji. Padahal, seperti diingatkan oleh ulama-ulama tasawuf, barang siapa yang merasa jumawa setelah beribadah, maka amal ibadahnya sama sekali tidak memberi nilai tambah.

Namun memang banyak ironi di negeri ini. Muslim adalah mayoritas di negeri ini. Wajar jika kuota haji terbesar di dunia adalah Indonesia. Jumlah pendaftar ibadah haji setiap tahun selalu meningkat. Semua itu beriringan dengan indeks korupsi yang masih tinggi, sehingga Indonesia berada di peringkat atas negara dengan indeks korupsi yang buruk.
Panggilannya “Pak Haji” atau “Pak Ustadz” namun rajin sekali menyambangi kafe untuk melakukan lobi-lobi dan transaksi kotor menggarong anggaran negara.

Sumber: Lazuardi Birru

Jumat, 18 Oktober 2013

SILATURAHIM SEBAGAI UPAYA PEMERSATU AGAMA DAN BANGSA



“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”(QS. Ali ‘Imran: 103)

Bangsa yang bersatu terlahir dari adanya rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam anggota komunitas bangsa tersebut. Kebersamaan dalam satu bangsa ini pula yang diyakini menjadi sebuah kekuatan yang mendorong para pejuang kita sehingga rela mengorbankan jiwa raga demi tegaknya sebuah bangsa yang merdeka. Kebersamaan dan persaudaraan yang erat menjadi motivator ulung yang menyemangati para pejuang dalam memperjuangkan eksistensi bangsanya, bangsa Indonesia.

Membaca firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 103 di atas, semakin mengukuhkan bahwa Allah SWT menghendaki agar kita dapat menjadi umat yang bersatu,yang dibangun atas dasar rasa persaudaraan satu sama lain, rasa senasib sepenanggungan. Bila dalam konteks keagamaan, persatuan umat dibangun dalam sebuah ikatan persaudaraan seagama, persaudaraan Islam atau ukhuwah Islamiyah. Maka dalam konteks kebangsaan, di mana umat beragama berada dalam lingkup sebuah negara bangsa, maka yang perlu dikedepankan pula adalah prinsip ukhuwah insaniyah yaitu persaudaraan atas nilai-nilai kemanusiaan bahwa kita merupakan anggota komunitas bangsa yang sama, tanpa harus memandang dari agama, ras, suku atau kelompok mana berasal. Dalam prosesnya mewujudkan umat yang bersatu dalam asas persaudaraan, ayat ini juga mengemukakan prinsip-prinsip dasar yang menjadi sarana pemersatu umat.

Berdasarkan ayat tersebut, setidaknya kita menemukan tiga poin penting sebagai alat pemersatu dan mempererat ikatan kebangsaan. Pertama; berpegang teguh pada ajaran Allah. Yakni ajaran yang berlandaskan pada nilai-nilai Qur’ani. Ajaran yang dapat mempererat ikatan persaudaraan di antara sesama manusia, bahkan terutama sesama muslim. Ajaran untuk saling peduli dan memahami satu sama lain. Ajaran yang dimulai dari tata cara sederhana, dengan saling bertegur sapa, bersilaturahmi mengenal satu sama lain, hingga akhirnya terjalin persahabatan yang erat.

Kedua; larangan bercerai-berai. Yang berarti ini adalah sebuah perintah bahwa bila kita ingin menjadi sebuah bangsa yang kokoh, hendaklah bersatu dan tidak terpecah belah. Perbedaan tidak akan menjadi faktor pemecah belah bangsa, bila kita bisa memahami latar belakang perbedaan yang muncul. Perbedaan juga bukan kendala, bahkan rahmat yang diberikan Allah kepada kita, bila kita mau bersilaturahmi, berbicara satu sama lain.
Ketiga; sebagai hamba Allah, sudah sepantasnya kita senantiasa mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. Mensyukuri nikmat tidak hanya dengan menengadahkan tangan, berdoa dan berterima kasih pada yang di Atas. Tapi juga berupa syukur nikmat bila kita mau berbagi dengan sesama, saling silaturahmi dengan peduli pada kehidupan yang lain, terutama pada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Bila kita mengamati secara lebih saksama, ternyata ketiga poin penting tersebut bermuara pada satu hal yang sama, yang menjadi salah satu inti ajaran Islam, dan juga teladan yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Hal tersebut adalah silaturahmi. Dengan bersilaturahmi, berarti kita telah menjalin persaudaraan. Dengan persaudaraan yang kokoh, maka kita akan memiliki sebuah kekuatan berbangsa yang erat. Diibaratkan, keluarga sebagai sebuah komunitas berbangsa dalam lingkup kecil. Bila keluarga tersebut menjalin komunikasi dan silaturahmi yang baik terhadap sesama anggota keluarganya, maka akan timbul rasa memiliki yang kuat dari para anggotanya. Dalam hal ini, mereka akan rela melakukan apapun untuk menjaga keutuhan keluarganya. Mereka senantiasa berbagi, tak hanya pada saat tawa dalam kegembiraan, tapi juga saat duka dalam kenestapaan. Begitu pula hendaknya dalam suatu komunitas berbangsa.
Pada hakikatnya, silaturahmi bermakna bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Adapun secara etimologi kebahasaan, silaturahmi berasal dari dua rangkaian kata yaitu shilah yang berarti menyambung atau menyampaikan, dan rahm yang berarti kerabat, atau bisa pula bermakna lemah lembut dan kasih sayang.
Terlepas dari sedikit perbedaan arti yang ditimbulkan kata tersebut. Pada dasarnya hal tersebut tidak memunculkan perbedaan makna yang cukup signifikan. Silaturahmi dapat dimaknai sebagai menyambung atau menjalin persaudaraan dengan kaum kerabat, ataupun bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, tanpa mengurangi kedua pemaknaan tersebut, silaturahmi dapat diartikan sebagai menjalin persaudaraan dengan sesama dengan bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Allah SWT pun senantiasa memotivasi setiap mukmin dengan memberikan ganjaran berupa surga, agar selalu menjalin silaturahmi dan berbuat baik terhadap sesama. Hal ini sebagaimana tercermin dalam firman-Nya QS. al-Ra’du: 21-23
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan (mengadakan hubungan silaturahmi dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya….” 
Lalu, bagaimanakah caranya kita menjalin silaturahmi tersebut? Al-Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan bahwa menjalin silaturahmi hendaknya dimulai dari orang-orang terdekat kita, yaitu para kerabat dalam sebuah keluarga. Sebab, keluarga merupakan habitat utama untuk memupuk persatuan, menumbuhkan kasih sayang, dan menjadi tempat perlindungan dan pertolongan yang pertama.
Hal tersebut akan dapat terwujud bila kita senantiasa bersikap santun terhadap sesama anggota keluarga, turut bersimpati dan berempati terhadap cobaan atau musibah yang menimpa mereka, dan menunjukkan rasa cinta kasih kita terhadap mereka. Baik dengan saling berbagi dan peduli, memahami yang lain, ataupun hanya dengan sebuah upaya minimal yaitu bertegur sapa dan senyuman.
Dalam kaitannya memperkokoh ikatan kebangsaan, silaturahmi tidak hanya dibangun di antara sesama muslim, tapi juga suatu keharusan membinanya dengan siapapun tanpa memandang muslim ataupun non-muslim. Dalam QS. al-Mumtahanah [60]: 8 Allah SWT berfirman: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul mengungkapkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sebuah peristiwa yang diriwayatkan oleh Zubeir ibn al-‘Awwam. Ia mengatakan: “Suatu ketika Qutailah hendak mengunjungi anaknya Asma binti Abu Bakar dan memberinya beragam hadiah. Saat itu, Qutailah adalah seorang perempuan non-muslim, sehingga Asma pun enggan menerima hadiah dari ibunya, bahkan tidak mempersilahkan ibunya masuk ke dalam rumahnya. Mengetahui hal tersebut, Rasulullah lalu menanyakan apa gerangan yang terjadi hingga ia tidak berkenan terhadap ibunya. Lalu turunlah ayat tersebut. Rasulullah pun kemudian memerintahkan kepada Asma untuk menerima pemberian ibunya, dan mempersilahkannya untuk mengunjungi rumahnya.”
Sehubungan dengan ayat ini, dalam Shahih al-Bukhary disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Asma, jalinlah silaturahmi dengan ibumu!”
Pentingnya silaturahmi ini juga terlihat dari pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa menjalin silaturahmi adalah sebuah kewajiban. Bahkan memutuskan tali silaturahmi dapat dikategorikan sebagai perbuatan dosa besar. Allah SWT berfirman: Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan tali kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya), dan dibutakan penglihatannya.”(QS. Muhammad: 22-23)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa secara umum ayat ini berbicara larangan berbuat kerusakan di muka bumi. Lalu, kerusakan seperti apakah yang dimaksud? Maka, kelanjutan ayat ini merincinya secara lebih khusus, bahwa di antara perbuatan kerusakan itu adalah dengan memutuskan tali kekeluargaan atau tali silaturahmi. Jadi sesungguhnya bila kita telaah secara saksama, dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berbuat kebaikan di bumi ini, dengan menggalang persatuan dan menjalin silaturahmi terhadap sesama, dengan bersikap ihsan yaitu ramah dan santun dalam bertutur kata, ringan tangan dalam berbuat, bahkan rela menyisihkan harta untuk kepentingan yang membutuhkan.

Sumber: Lazuardi Birru

Kamis, 17 Oktober 2013

Merevitalisasi Sekolah Rakyat Pancasila


Pancasila sebagai ideologi negara belakangan ini tampak kian luntur penghayatannya di kalangan warga Indonesia. Apalagi, sesudah mata pelajaran Pancasila selama hampir satu dekade dihapuskan dalam pendidikan dasar maupun tinggi, dan digantikan semata oleh Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn).
Pengamalan nilai-nilai Pancasila pun seakan-akan hanya manis di bibir karena senjangnya dimensi ajaran dan praktik dari ideologi tersebut, terbukti dari kian banyaknya masalah yang menghantam negeri ini: korupsi, konflik horizontal, dan lain sebagainya. Alhasil, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang mengawang-awang, tidak membumi, dan kurang konkret.

Padahal, nilai-nilai Pancasila sejatinya mampu menjadi pendasaran kuat untuk merumuskan satu metode pendidikan ampuh guna membangun kualitas SDM Indonesia yang unggul. Dan, siapa sangka nilai-nilai Pancasila sebenarnya sudah pernah diolah menjadi satu cetak biru (blue print) pendidikan bernama Sekolah Rakyat Pancasila sejak 1950-an. Inilah satu gagasan revolusioner yang teronggok mengenaskan di pojok sejarah dan menunggu direvitalisasi.

Sekolah Rakyat Pancasila (SRP) sebagai satu konsep pendidikan digagas oleh Sutedjo Bradjanegara, Ketua Badan Kongres Pendidikan Indonesia pada 1950-an. Menurut Bradjanegara dalam dua bukunya, Djalan Baru untuk Memperbaharui Pendidikan dan Pengadjaran Sekolah Rakyat Pantjasila dan Sedjarah Pendidikan Indonesia (dalam Negara Minus Nurani, Penerbit Kompas, 2009), SRP bercita-cita membangun satu masyarakat yang bersifat nasional, demokratis, berperikemanusiaan, dan ber-Ketuhanan untuk mewujudkan keadilan sosial. Tujuan pendidikan dan pengajaran, membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat di Tanah Air.
Untuk itu, SRP kemudian menyaripatikan metode pendidikannya menjadi dua prinsip. Pertama, pengajaran harus diberikan menurut kodrat anak-anak. Maksudnya, sekolah tidak boleh menerapkan aturan sempit yang terlalu keras karena hal demikian akan mematikan kreativitas anak.

Kedua, sekolah harus berhubungan rapat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Sekolah menjadi bagian dari masyarakat untuk menjadi agen perubahan masyarakat, bukannya menjadi alat kekuasaan atau alat mempertajam elitisme dan fanatisme. Maka, prinsip kedua SRP ini meniscayakan alam sekitar menjadi dasar pengajaran pada pendidikan sekolah paling dasar. Guru harus tahu betul keadaan sekitar sekolah, sehingga guru sekaligus sekolah dapat mengajarkan ilmu yang ada hubungannya dengan masyarakat; mampu memperkaya pengetahuan siswa lewat perbandingan dengan kondisi di lingkungan lain; dan bisa menjaga agar pengaruh lingkungan buruk tidak menular kepada anak.

Konsep SRP pun mensyaratkan para gurunya untuk menguasai sejarah pendidikan. Yaitu, pengetahuan tentang konsep pendidikan warisan filsafat Yunani, Romawi, Israel, Zaman Abad Pertengahan Eropa, Zaman Renaissance, Humanisme, realisme dan rasionalisme selain juga mengenal ahli-ahli pendidikan seperti Dr Montessori dan Frobel. Tak lupa pula konsep-konsep pendidikan yang digali dari nilai-nilai bangsa sendiri seperti pemikiran Ki Hajar Dewantara. Bayangkan betapa majunya konsep era 1950-an ini yang mampu menggabungkan nilai Barat dan Timur.Tidak berhenti pada tataran teoretis dan filosofis, SRP bisa dikembangkan secara lebih konkret untuk memudahkan pelaksanaan di kelas.

Pertama, isi pelajaran harus diambil dari kebudayaan bangsa yang menumbuhkan jiwa anak ditambah isi budaya asing yang dapat memperkaya budaya sendiri. Contoh, kisah Harry Potter atau Chronicles of Narnia yang menakjubkan dan memberikan nilai-nilai kesatriaan bisa disandingkan dengan kisah Calon Arang yang bertemakan serupa: wizardry alias dunia sihir. Atau, permainan Angry Birds bisa diimbangi dengan dolanan serupa – ketapel – yang intinya sama-sama melatih akurasi, presisi, dan ketelitian.

Kedua, sekolah harus lebih memperbanyak porsi belajar lewat praktik dan penyelidikan seraya mengurangi porsi belajar verbal. Di sini, murid diasah kreativitasnya dan aspek yang kurang praktis dari satu ilmu tidak perlu menjadi terlalu dominan. Lebih konkret lagi, murid diwajibkan mengikuti kegiatan pramuka (kepanduan) dan mempelajari keterampilan seperti bela diri, pertanian, berkebun, beternak, dan menenun. Hal ini tentu mensyaratkan sekolah memiliki lapangan dan sejumlah hewan serta ragam tanaman. Langkah ini diharapkan akan membuat anak lebih mandiri, percaya diri, mampu menjaga diri dan lingkungan sekitar, bertanggung jawab, dan mampu mengembangkan benih pemikiran awal untuk menciptakan lapangan pekerjaan kelak.

Ketiga, murid di sekolah seyogianya diberikan pelajaran sosiologi untuk mengasah naluri dan empati kemasyarakatannya serta filsafat dan etika. Tak kurang Sutedjo Brajanagara sendiri sempat mengemukakan hal ini untuk meningkatkan nalar dan kesadaran kritis siswa yang akan berguna mengasah daya asertifnya – kemampuan mengekspresikan kepentingan diri secara bertanggung jawab tanpa takut menyinggung perasaan orang lain – dalam kehidupan pergaulan yang lebih luas di masyarakat.

Akhirnya, konsep SRP jelas merupakan satu cetak biru potensial untuk melahirkan manusia-manusia Indonesia berkarakter yang sangat dibutuhkan di era ketika negara ini dilanda begitu banyak masalah. Tinggal, bagaimana para stakeholders pendidikan bangsa ini bisa menghimpun komitmen bersama untuk merealisasikan secara institusional satu metode pedagogis yang begitu visioner melampaui zamannya. Satu metode yang jauh mendahului sejumlah konsep sekolah-sekolah mahal yang konon, berkurikulum “progresif, termodern, dan internasional.” Semoga terwujud suatu saat! ***

Sumber: Lazaurdi Birru

Senin, 14 Oktober 2013

Wadah Para Pecinta Kesenian Islam


Sobar Birru Semua, di Universitas Islam Negeri Jakarta (UIN) ada sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang menjadikan Al-Qur’an dan seni Islami sebagai ruh kegiatan dan orientasi aktivitasnya. UKM ini bernama HIQMA. Di samping itu, kader-kader Hiqma juga terkenal memiliki manajemen organisasi yang baik lho .

Menurut Fajar Mahbub, Hiqma berdiri delapan belas tahun yang lalu, tepatnya pada 11 Oktober 1988. Yang memprakarsai Unit Kegiatan Mahasiswa yang menfokuskan diri pada kesenian Islam ini adalah Syarifuddin Muhammad dan kawan-kawan.

Kini perintis Hiqma ini dikenal sebagai qori internasional yang selama dalam beberapa tahun terahir mendapat kehormatan menjadi Imam Besar di salah satu Masjid Besar di Qatar, dan sekarang menjadi imam besar di masjid Istiqlal Jakarta.

Apabila dihitung semenjak berdiri hingga eksistensinya saat ini, sudah begitu banyak torehan prestasi yang berhasil Hiqma rengkuh. Bahkan ketua periode saat ini, Fajar Mahbub, tak sanggup jika harus menjabarkan satu per-satu capaian harum tersebut.

Di antara kader Hiqma yang berhasil mengharumkan mengharumkan dan memberi warna tersendiri terhadap Hiqma dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, baik di kancah nasional maupun Internasional, di antaranya adalah Ustd. Syarifuddin Muhammad sang founder, Yaser Arafat Lubis, yang berhasil menjuarai MTQ internasional di Philipina pada tahun 2002, Ahmad Zaini, Nurlela, qori qori’ah muda yang menjuarai MTQ Nasional di Jambi pada tahun 1997, Nurhayati juara MSQ, di Pakanbaru dan masih banyak lagi qori qori’ah lainnya yang menjadi juara pada berbagai MTQ, di berbagai  tingkatan.

Tak kalah dengan tilawah, putera-putri Hiqma juga unjuk kebolehan dalam bidang shalawat, terbukti dengan beberapa kali tampilnya tim sholawat HIQMA di RCTI dan TVRI. Selain itu juga berkreasi dan berprestasi dalam berbagai bidang seni Islami seperti: Marawis ,sholawat Qasidah yang sering mendapat panggilan konser di beberapa hotel, instansi pemerintah/swasta, UNHCR (Lembaga di bawah PBB), masjid besar di Jakarta, maupun acara keluarga seperti resepsi pernikahan, khitanan, dll.

Ada beberapa program yang menjadi garapan Hiqma untuk mengembangkan kesenian Islam. Pelatihan Tilawah, Tahsin Al- Qur’an, Pelatihan Sholawat Hadroh, Pelatihan Marawis dan Orkes Gambus, Pelatihan Qosidah adalah beberapa kegiatan yang difokuskan agar kesenian Islam tetap berbinar di kalangan generasi muda.

Selain mendalami bidang seni suara dan seni Islami, Hiqma juga membekali para anggota dan pengurusnya dengan pengetahuan organisasi. Sehingga diharapkan kader-kader Hiqma tidak hanya pandai dalam seni suara dan seni Islami, tapi diharapkan bisa menjadi organisator yang handal.

Sumber: Lazuardi Birru

Kamis, 10 Oktober 2013

Cara Mengatasi Malas Belajar


 


Hampir sebagian orang jika melakukan kegiatan belajar, pembawaannya berat dan malas sekali. Perasaan malas mungkin sering kali hinggap ketika hendak melakukan kegiatan belajar. Bahkan jika disuruh memilih tentunya kita ingin segera menghindari kegiatan belajar dan lebih tertarik melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan seperti bermain, jalan-jalan dan bercanda. Kegiatan belajar mungkin merupakan aktifitas yang paling tidak diminati.
Apabila permasalahan malas belajar terus berlanjut, maka akan berakibat fatal bagi perkembangan diri kita. Kita bisa menjadi tidak cakap dalam berbagai hal, terutama hasil belajar dan bisa terancam mengalami kegagalan dalam menempuh studi. Permasalahan malas belajar harus diatasi. Inti mengatasi malas belajar adalah bagaimana membuat proses belajar dapat mendatangkan cita rasa manfaat dan kegunaan utama yang dapat langsung merangsang, menantang dan memuaskan kita.
Ada beberapa langkah-langkah untuk mengatasi malas belajar, yaitu:
Berani membangun mimpi
Bila ingin menjadi orang sukses dan orang besar, kita harus mampu membangun mimpi atau cita-cita atau harapan besar yang akan diraih di kemudian hari. Dengan adanya mimpi dan cita-cita yang tertanam, tentu kita akan memusatkan perhatian pada cara-cara mencapai mimpi tersebut. Dengan kata lain, akan memotivasi diri kita untuk melakukan proses belajar untuk meraih mimpi tersebut. Kita juga akan terpacu mencari cara mengatasi rintangan yang menghambat meraih mimpi kita.
Keinginan untuk memiliki nilai plus
Memiliki kelebihan atau kepandaian melebihi teman-teman tentu suatu kebanggan. Untuk itu, kita dituntut untuk belajar lebih giat lagi untuk mengungguli teman-teman. Kita harus mampu mencari cara belajar yang baik untuk memudahkan penguasaan pelajaran. Tugas kita adalah mencari jurus pamungkas yang jitu untuk menelan pelajaran dengan efektif.
Memiliki rasa percaya diri
Rasa percaya diri adalah sumber energi yang besar untuk terus memusatkan perhatian pada pelajaran. Kita perlu menanamkan keyakinan mampu mempelajari dan mengerjakan bagaimana sulitnya pelajaran yang dihadapi. Keyakinan dalam hati akan membuat diri kita bekerja keras untuk mewujudkan keyakinan kita. Rasa optimis dan berpikir positif wajib ditumbuhkan dalam hati sanubari kita.
Antusias dan cinta pada pelajaran
Dalam belajar dibutuhkan perasaan yang kuat dan teguh untuk mendorong diri sendiri melakukan kegiatan belajar. Untuk membangkitkan minat dan perhatian pada pelajaran secara terarah, maka kita bisa mempergunakan perangsang seperti untuk apa kita belajar ini? Dan bagaimana cara mempelajarinya?. Pertanyaan tersebut berarti kita berusaha untuk menggiring dan memfokuskan perhatian secara terarah pada tujuan untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Dengan mengembangkan perhatian secara terpusat, bisa membangkitkan minat belajar dan merasa tertantang untuk mempelajari pelajaran lebih lanjut. Timbulnya minat dan berkembangnya keinginan untuk menguasai kecakapan tertentu dari hasil proses belajar tentu menjadi motif yang cukup kuat bagi kita untuk memotivasi diri melakukan pembelajaran.
Menentukan target pencapaian tingkat prestasi jangka pendek maupun panjang
Untuk mendorong giat dan focus belajar, sebaiknya kita membuat rencana tahapan pencapaian tujuan belajar. Misalnya, setiap belajar harus mampu menguasai dan mempraktikkan pengetahuan yang dipelajari. Dengan menentukan target tujuan prestasi secara bertahap semakin jelas bagi kita mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan belajar terarah. Selain itu, adanya target tujuan prestasi belajar akan member sugesti, memotivasi, merangsang, dan menantang kita untuk giat belajar.
Belajar aktif
Kita harus dapat belajar aktif dan terarah untuk menghilangkan kejemuan atau kemalasan dalam belajar. Kita harus dapat terlibat aktif secara kognitif, afektif dan psikomotor dalam belajar. Musuh terbesar dalam belajar adalah ketidakmampuan kita untuk konsentrasi belajar. Untuk mengatasi hal itu, kita mutlak harus bisa belajar aktif. Belajar aktif maksudnya mengarahkan, menggerakkan, dan mengendalikan proses penalaran, sikap dan tindakan pada suatu tujuan penelaahan materi pelajaran secara kritis. Cara belajar aktif antara lain aktif bertanya secara detail hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan materi pelajaran kepada guru dan orang tua, dan aktif berbuat/ mempraktikkan materi pelajaran yang dipelajari.
Mengatur waktu belajar yang efektif
Apabila ingin sukses belajar, maka kita harus mampu mengatur belajar yang efektif. Untuk mengatur waktu belajar yang efektif, maka perlu diperhitungkan, antara lain disesuaikan dengan keinginan belajar sendiri, jangan berbenturan dengan keinginan-keinginan lain yang lebih dominan seperti nonton film, dan perhatikan kondisi fisik dan psikis harus dalam kondisi siap belajar atau keadaan segar bebas dari rasa lelah, mengantuk, rasa lapar, gangguan penyakit, dan rasa marah.
Menyiapkan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar
Suasana lingkungan dimana kita belajar sangat berpengaruh terhadap aspek psikis kita yang hendak melakukan belajar. Suasana lingkungan yang buruk dapat membuat kita tidak produktif untuk belajar karena kita merasa tidak nyaman dan aman untuk belajar.  Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan kondisi lingkungan dimana kita belajar. Kita harus mendapatkan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar. Untuk itu, kita perlu benahi, menata dan membina; suasana harus nyaman dan aman, bebas dari suara berisik, ruangan belajar harus tertata rapi, menjaga keharmonisan hubungan antaranggota keluarga, dan menciptakan nuansa kebersamaan dan keceriaan dalam keluarga.
Mengembangkan kualitas pergaulan
Kita harus mampu mengembangkan kualitas pergaulan agar memberi kontribusi perkembangan diri pribadi pada arah yang positif. Untuk menentukan kualitas pergaulan dan kegiatan dalam pergaulan, maka kita harus menentukan antara lain; mutu kegiatan yang bagaimana yang pantas dikembangkan dan bagaimana kita membagi waktu antara belajar dengan bergaul. Agar kita mampu bergaul dengan baik, maka harus mampu mengembangkan kelebihan-kelebihan khusus yang member citra pada diri kita. Kelebihan tersebut bisa bersumber dari bakat, hobi maupun kreatifitas. Dengan kelebihan tersebut kita akan mendapat tempat khusus dan dijadikan simbol, panutan dan pemimpin dalam kelompok. Selain itu, juga untuk member pengaruh, mengarahkan, dan mengendalikan arah pergaulan teman kita. [akhwani]

Sumber: Lazuardi Birru

Rabu, 09 Oktober 2013

Islam di Negeri Tirai Bambu (1): Sejarah Masuknya Islam ke China

 
Islam masuk ke China pada awal pertengahan abab ke-7. Perkembangan dan penyebaran Islam terjadi pada periode Dinasti Tang, Song, Yuan, Ming dan Qing, serta pemerintahan Republik (618-1949 M) selama 1300 tahun. Jumlah pemeluk Islam terus mengalami perkembangan hingga mencapai 20 juta orang sampai saat itu. Sampai-sampai Islam memiliki sebutan pada tiap-tiap periodesasi sejarah pemerintahan di sana. Pada era Dinasti Tang (618-907 M) misalnya, Islam dikenal dengan Dashi Jiao, agama Dashi, panggilan yang biasa disematkan untuk orang Arab Dashi. Sementara di era Dinasti Ming (1368-1644 M), Islam lebih populer dengan sebutan Tiangfang Jiao (agama bangsa Arab), atau Hui Hui Jiao (agama bangsa Hui Hui). Karena itu, orang Muslim dengan latar belakang etnik yang bervariasi umumnya dikenal sebagai orang Hui Hui.
Begitu juga pada era Dinasti Ming dan Qing (1616-1911 M), komunitas Muslim mempunyai panggilan yang khas dengan sebutan Qingzhen Jiao, yang berarti agama yang benar dan murni. Terakhir, pada era Republik (1912-1949 M), Islam disebut Hui Jiao atau agama bangsa Hui, yakni sebuah kelompok etnik Muslim di China.
Setelah pemerintahan China Baru didirikan pada 1949, Dewan Negara mengeluarkan kebijakan supaya mencatat nama-nama Islam di tahun 1956. Kebijakan itu menghasilkan keputusan bahwa Islam adalah agama yang mendunia, dan terminologi Islam merupakan nama universal yang digunakan masyarakat secara internasional. Jadi, tidak boleh lagi ada penyebutan Hui Jiao untuk Islam mulai saat itu, cukup dengan penyebutan Islam.
Sejak itu, terma Islam secara umum digunakan di daratan China, meski Islam di Hongkong, Macau, dan Taiwan masih disebut Hui Jiao. Di antara 56 kelompok etnik China, terdapat 10 etnik yang menjadikan Islam sebagai kepercayaan nasional mereka. Di antara etni-etnik tersebut terdapat etnik Hui, Uighur, Kazak, Dongxiang, Khalkha, Sala, Tajik, Uzbek, Bao’an dan Tatar. Di samping itu ada juga etnik yang sebagian kecil warganya memeluk Islam seperti yang terjadi pada etnik Mongol.
Perkembangan Islam di China memunculkan pertanyaan terbuka ketika Islam pertama kali dikenalkan di negeri tirai bambu ini. Banyak peneliti dan cendekiawan yang meneliti hal ini tetapi kerap berujung pada kesimpulan yang berbeda-beda. Yang ternilai paling valid adalah penemuan sejarawan China kontemporer, Chen Yuan. Dia mengatakan bahwa Islam mulai masuk pada tahun kedua Cefu Yonghui dari Dinasti Tang.
Yuan menemukan dokumen-dokumen aktual mengenai sejarah Dinasti Tang dan Yuangui. Hasil penelitiannya menjadi rujukan utama pengetahuan sejarah Islam China. Yuan menyimpulkan, Islam masuk ke China pada tahun kedua Yonghui kekaisaran Gaozong Dinasi Tang. Saat itu, Khalifah Arab Othman ketiga (644-656 M) mengirim utusan diplomatik ke ibukota Tang, yaitu Chang’an dalam rangka memenuhi undangan Kaisar Gaozong. Kaisar ingin dikenalkan tentang kekhalifahan dan adat budaya Islam. Banyak sejarawan yang menyebut tahun ini sebagai awal mula masuknya Islam ke China.
Islam masuk ke China melalui dua rute, laut dan darat. Komunikasi dan transportasi antara China dengan negara-negara Bagian Barat (baca saat ini: Xinjiang dan Asia Tengah) mulai terjalin sejak Zhangqian (?-114 M) dikirim oleh Kaisar Hanhe sebagai utusan ke Bagian Barat di masa Dinasti Han pada tahun ke-9 Yongyuan. Dia diutus ke Semenanjung Arab dalam misi diplomatik ke Bagian Barat. Saat itu, transportasi dan komunikasi jalur laut antara China dan negara-negara di Bagian Barat sudah jauh berkembang.
Jalan darat yang terbentang dari Asia Barat Daya melewati Persia, Afghanistan, Asia Tengah, Pegunungan Tianshan dan Jalur Hexi hingga Chang’an merupakan jalur lintasan penting yang menghubungkan China dan Barat. Banyak saudagar Muslim melakukan perjalanan panjang dan berliku ke China untuk berbisnis. Dalam buku bertajuk “Zhi Zhi Tong Jian/Sejarah sebagai Sebuah Cermin” tercatat ada lebih dari 4.000 pebisnis asing yang masuk ke Cang’an pada era Dinasti Tang. Mayoritas pedagang berasal dari Arab dan Persia.
Pedagang-pedagang China dan Arab mendominasi jalur bisnis laut mulai dari teluk Persia dan laut Arab, berlanjut ke teluk Bangladesh, selat-selat Malaka dan laut China Selatan, hingga pelabuhan-pelabuhan di China seperti Guangzhou, Quanzhou dan Yangzhou. Pedagang Arab dan Persia datang ke tempat-tempat ini untuk melakukan bisnis, dan di antara mereka ada yang menetap di sana. Tidak salah jika dikatakan Islam menyapa China melalui bisnis laut.
Hubungan China dengan negara-negara Islam juga terjalin di bidang militer. Dinasti Tang kerap menjalin hubungan militer dengan kerajaan Arab Islam. Selain itu, komunikasi China dengan Islam tetap terjaga lebih dari 148 tahun, dari tahun kedua Yonghui Kekaisaran Gaozong (651 M) sampai tahun ke-14 Zhengyuan Kekaisaran Dezong (798 M). Kunjungan para utusan Arab ke China tercatat mencapai 37 kali.
Sayangnya, di masa kekuasaan Tang, pemerintahan pusat dilemahkan persoalan sosial dan politik internal seperti korupsi dan otoritarianisme pusat terhadap kendali propinsi-propinsi kecil. Karena penekanan itu, sejumlah penguasa lokal seperti gubernur An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing) pada 755 M. Pemberontakan ini dibantu dengan jenderal Shi Shiming yang menguasai provinsi Hebei. Mutlak, pemberontakan itu kian melemahkan Dinasti Tang.
Dinasti Tang meminta bantuan militer dari kerajaan Arab untuk meredam pemberontakan An dan Shi. Hubungan baik dengan kerajaan Arab dipertahankan tetap langgeng. Setelah perang usai, Kaisar Zongyun mengizinkan tentara-tentara Arab untuk tetap tinggal di China. Dari hal itu, Islam semakin eksis di China.
Dinasti Tang dan Song (618-1279 M) merupakan periode pertama Islam di China. Saat itu, pada dasarnya Muslim di China terdiri dari para pedagang, tentara, dan utusan-utusan diplomatik kerajaan Arab dan Persia. Mereka menetap dalam komunitas-komunitas yang berkoloni. Mereka teguh menjaga agama dan cara hidup mereka. Kehadiran mereka ke China lebih bertujuan pada upaya bisnis, bukan sebagai misionaris. Karena alasan ini, kehadiran mereka tidak ditentang para penguasa China. Keberadaan mereka malah dihargai dengan dibolehkannya menetap dan menikah dengan penduduk setempat di sana.
Orang-orang Islam yang menetap di China dipanggil Zhu Tang, penduduk asing yang tinggal di China. Muslim Zhu Tang menikahi perempuan China lokal dan beranak pinak. Keturunan mereka menjadi pribumi asli yang terlahir sebagai Fan Ke, yang berarti orang asing atau Muslim asing. Meski demikian, jumlah orang Islam si China saat itu masih sedikit sekali. Keberadaan mereka rata-rata terkosentrasi di kota-kota besar dan pelabuhan-pelabuhan di sepanjang jalur pusat komunikasi pemerintahan.
Perkawinan silang antara Muslim asing yang menetap di China dengan penduduk asli China menjadi sebuah fenomena umum. Di antara generasi pertama Muslim asing di China, sebagian besar datang secara individual. Mereka hidup dalam kemakmuran dan menikmati status sosial yang tinggi, sebagai saudagar. Karena itu, pernikahan silang bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Mereka menikahi perempuan pribumi, pejabat, bahkan keluarga darah biru.
Kebutuhan melaksanakan ritual keagamaan mendesak mereka untuk membangun beberapa masjid. Mereka menjadikan masjid sebagai pusat komunikasi antar-Muslim di sana seperti masjid Huaisheng di Guangzhou, Qingjing di Quanzhou, Xianhe di Yangzhou dan Fenghuang di Hangzhou.  Keempat masjid ini dibangun pada dinasti yang berbeda-beda dan disebut sebagai empat masjid kuno China.
Seperti disebutkan di awal, selama Dinasti Tang dan Song, perdagangan asing berkembang, sehingga banyak pedagang Arab dan Persia yang menetap di China. Pada tahun ke-4 Zhenghe Dinasti Song, mulai muncul generasi ke-5 penduduk lokal Fan Ke. Pemerintahan Song secara khusus mengeluarkan kebijakan hukum waris bagi generasi ke-5 penduduk lokal Fan Ke. Kebijakan ini betujuan untuk menyepakati problem kewarisan mereka yang sebelumnya menjadi persoalan.
Sementara itu, masih pada era Song, kalangan Muslim pribumi mulai menerima dengan positif pendidikan budaya China. Di Guangzhou dan Quanzhou, di mana masyarakat Muslim terkosentrasi, muncul sekolah-sekolah khusus yang dijalankan umat Muslim sendiri. Sekolah-sekolah itu lebih dikenal dengan sebutan Fan Xue –sekolah bagi orang asing–, yang hanya atau sebagian besar merekrut anak-anak dari orang Muslim pribumi.
Pembangunan Fan Xue bertujuan untuk mendidik anak-anak Muslim dengan budaya tradisional masyarakat China dan membantu mereka supaya lebih cepat menyesuaikan diri dengan kebudayaan China. Target akhir Fan Xue adalah ujian kekaisaran yang diselenggarakan pengadilan setempat. Ujian tersebut merupakan jalur terpenting bagi umat Muslim China untuk berpartisipasi dalam bidang politik. Dinasti Song mengikuti sistem Tang yang membolehkan orang-orang asing dan keturunan mereka yang tinggal di China untuk mengikuti ujian kekaisaran dengan subjek sama seperti yang diujikan kepada masyarakat asli China. Meski sistem ujian kekaisaran itu belum utuh, kuota tahunan memungkinkan orang asing langsung terlibat di bidang politik.
Selain pernikahan silang dan pembangunan basis pendidikan, peningkatan populasi Muslim di China pada era Dinasti Song juga terjadi melalui “perbudakan”. Pada era Song, ada kewajiban sosial yang menuntut lahan milik pribumi diakui sebagai milik pemerintah. Karena alasan ini, sebagian petani lokal atau pemilik lahan meminta perlindungan pejabat atau keluarga-keluarga kaya untuk merubah identitas atau status sosial mereka agar bisa lari dari kewajiban sosial itu. Dari itu, ada di antara mereka yang berkeinginan menjadi budak keluarga Muslim agar lahan mereka tidak dicaplok pemerintah.
Fakta ini menjadi fenomena umum, sejumlah petani penyewa meminta perlindungan kepada keluarga-keluarga Muslim, yang kemudian mereka memeluk Islam di waktu yang bersamaan. Bagi umat Islam, memelihara budak merupakan sesuatu yang biasa, sebab menurut tradisi-tradisi Islam, budak seperti ini termasuk dalam bagian yang turut mewarisi, bahkan dimasukkan ke dalam kualifikasi orang yang mendapatkan warisan, bahkan seluruh lahan dari sang penguasa tanah. Jadi, masyarakat Muslim di masa Dinasti Song terlibat dalam semua aktivitas sosial kehidupan seperti menjalankan sekolah, melakukan ujian kekaisaran, pernikahan silang dan melindungi budak. Hasilnya, populasi masyarakat Muslim mengalami peningkatan dan pada akhirnya terbentuk etnik baru bernama etnik Muslim Hui sebagai komunitas Muslim terbesar di China. (bersambung…)

Sumber: Lazuardi Birru