Senin, 06 Mei 2013

Bagaimana cara menghadapi kehidupan yang penuh dengan cobaan? Jelaskan?


Ustadz Menjawab
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sobat Birru yang hebat,
Cobaan merupakan hal yang tak akan pernah lepas dalam kehidupan kita. Dalam Alquran Allah sudah menjelaskan bahwa setiap kita akan diuji dengan berbagai kondisi. Kita bisa dicoba dengan kekurangan harta, fisik, atau cobaan lainnya. Berangkat dari pernyataan tersebut, maka dalam menghadapi cobaan hidup ini kita perlu:

  1. Mencipatkan mindset berfikir guna membangun kesadaran awal. Kesadaran bahwa cobaan hidup adalah suatu hal yang selalu menyertai kehidupan manusia. Apa artinya hidup seorang manusia jika tidak ada cobaan atau ujian dari Allah SWT. Sesungguhnya manusia yang tidak mengalami cobaan hanyalah manusia yang sudah tidak bernyawa. Dengan menciptakan pola pikir semacam ini, insya Allah kita akan lebih siap dengan berbagai cobaan hidup yang sedang dan akan kita hadapi.
  2. Berdoalah secara terus menerus. Dengan banyak memohon kepada Sang Pemilik cobaan itu sendiri, akan banyak membantu kita dalam mengahadapi cobaan, dengan selalu diiringi rasa optimisme dalam menghadapi cobaan.
  3. Banyak belajar dari lingkungan dan orang lain, terutama kepada yang lebih tua dari kita. Dengan mengambil pengalaman orang lain, terutama bagi mereka yang telah lama mengahadapi cobaan hidup, akan membawa kita pada langkah tepat dalam menghadapi hidup. Tidak salah jika kita mau mendengar nasihat orang lain sebagai pijakan dalam mengambil tindakan, terutama nasihat dari orangtua dan guru.
Sobat Birru yang hebat, teriring doa dari kami semoga Allah memberi kita kekuatan dan kemudahan kita dalam menghadapi cobaan hidup. Amin.

Sumber:Lazuardi Birru
 

Minggu, 05 Mei 2013

Memaknai Sepinya Diskursus Keislaman

 
Ada apa di balik turunnya minat ilmu keislaman, khususnya di kalangan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)? Apa arti dari merosotnya peminat jurusan ilmu keislaman dalam beberapa waktu terakhir? Apakah semua ini berhubungan dengan kondisi diskursus keislaman yang belakangan semakin lenyap dari ruang publik?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secara bersamsa-sama. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita memperhatikan beberapa fenomena mutakhir yang berkembang di masyarakat, baik fenomena yang bersifat keagamaan, sosial, politik, dan yang lainnya.

Dari segi keagamaan, gairah keagamaan masyarakat justru tampak tak pernah padam. Setidaknya bila hal ini dilihat dari maraknya buku-buku keislaman “praktis” yang memenuhi sejumlah toko buku di kota-kota besar, khususnya pada momentum menjelang bulan Ramadhan seperti sekarang. Begitu juga dengan acara keagamaan di sejumlah media yang menampilan “aneka macam” ustaz. Bahkan di sejumlah perguruan tinggi umum, minat keislaman juga kerap mengalami peningkatan yang ditandai dengan menjamurnya pelbagai macam gerakan keislaman.

Sementara di ranah sosial, fenomena aksi kekerasan semakin latin terjadi. Baik kekerasan yang bersifat sosial murni, kekerasan yang bernuansa keagamaan hingga kekerasan teroristik. Senada dengan ini, ada kecenderungan pengelompokan atau pengorganisasian masyarakat sebagai basis kekuatan yang tidak jarang justru dijadikan kendaraan untuk melakukan aksi kekerasan. Semua ini semakin meminggirkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan toleransi yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dalam jangka waktu berabad-abad lamanya.

Hal yang jauh lebih memilukan justru kerap ditemukan di pentas perpolitikan nasional. Para politisi yang berada di bawah naungan partai masing-masing justru kerap tampak mengedepankan kepentingan kelompoknya dibanding kepentingan masyarakat luas. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, politisi semakin identik dengan perbuatan tindak pidana korupsi yang belakangan sebagian dari mereka diduga terlibat dalam persoalan korupsi Al-Quran.

Di sini kita bisa melakukan pemaknaan yang lebih komprehensif terhadap fenomena menurunnya diskursus keislaman mutakhir, tak hanya di perguruan tinggi tapi juga di ruang publik yang lain seperti media. Salah satu makna dari fenomena ini adalah menurunnya semangat untuk mengkaji ilmu keislaman secara menyeluruh, sesuai dengan tangga-tangga akademik yang harus dilalui. Kajian serius atas ilmu keislaman tentu sangat melelahkan karena mengharuskan penguasaan sejumlah disiplin ilmu terkait. Sementara hasil yang didapat dari kajian melelahkan ini kerap tidak berimbang, khususnya bila dilihat dari segi materi.
Dalam konteks seperti ini, munculah fenomena “ustaz potong kompas”. Di satu sisi, mereka tidak mau ruwet mempelajari dan menguasai sejumlah disiplin ilmu keislaman yang ada. Di sisi lain, mereka mendambakan hasil yang melimpah, khususnya dari segi materi.

Lebih ekstrem lagi, semua kondisi di atas memunculkan keengganan yang akut di sebagian generasi muda Islam untuk mengambil jurusan keislaman. Hingga dari tahun ke tahun, jurusan ilmu keislaman semakin sepi peminat. Secara singkat dan vulgar dapat dikatakan, mohon maaf, jurusan ilmu keislaman tidak diminati karena dianggap tidak mempunyai masa depan.

Ini adalah persoalan yang sangat serius dan harus dihadapi secara bersama-sama, khususnya oleh pemerintah dan pemangku kebijakan. Para sarjana jurusan ilmu keislaman harus ditopang oleh program-program ekstra kampus yang mengarah pada pemandirian ekonomi. Hal ini penting dilakukan karena apa pun, apalagi dakwah, membutuhkan basis ekonomi yang kuat.

Dengan demikian, sarjana di bidang ilmu keislaman bisa menjadi tokoh agama yang sejati dan tulus mengabdi kepada umat dengan mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang jauh dari aksi kekerasan. Mereka tidak perlau was-was dengan kebutuhan ekonominya. Dan itulah hakikat dakwah yang diteladankan oleh para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW.

Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Qs. Yasin: 21).

GUA HIRA

Gua Hira terdapat di Jabal Nur, bukit cahaya, di Mina, Saudi Arabia. Di Gua ini terjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pada tahun 610 M., ketika Muhammad bin Abdullah al-Amin sedang berkhalwat di Gua Hira, beliau menerima kunjungan Malaikat Jibril yang datang atas perintah Allah khusus untuk menyampaikan wahyu kepada beliau. Sejak itu Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Rasulullah saw, utusan Allah. Wahyu yang pertama turun di Gua Hira adalah Surah al-‘Alaq ayat 1-5 yang berikut: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5). 

Selama satu tahun menjelang diangkat menjadi nabi dan rasul, Rasulullah saw berkhalwat di Gua Hira dengan dua tujuan utama. Pertama, berzikir dan berdoa guna mendekatkan diri kepada Allah dengan. Kedua, menarik diri dari kehidupan sosial di Mekkah yang sedang mengalami krisis moral, namun tetap dengan mengamati keadaan kota Mekkah dari atas Gua Hira. Dengan berdiri di atas Gua Hira, Rasulullah saw bisa mengamati orang-orang yang sedang tawaf di sekeliling Ka’bah. Sebab secara geografis, posisi Gua Hira dengan  Ka’bah itu berada pada garis lurus. Kedua tujuan ini mencerminkan terpadunya dimensi spiritual dan sosial pada diri Rasulullah saw. Dengan berkhalwat di Gua Hira, Rasulullah  saw sedang mempersiapkan mental untuk mengemban tugas kerasulan; sedangkan dengan mengamati kehidupan di sekitar Ka’bah, mencerminkan bahwa Rasulullah saw tidak boleh  kehilangan kepekaan  dan tanggung jawab sosial terhadap kehidupan masyarakat Makkah yang sedang sakit. Gua Hira, dengan demikian, menjadi simbol terpadunya masalah spiritual dan tanggung jawab sosial  dalam kehidupan Rasulullah saw.

Sabtu, 04 Mei 2013

Jejak Kisah Cinta dalam Peradaban Islam

 
Salah satu kata yang akan abadi diperbincangkan adalah cinta. Bertambahnya waktu tidak membuat kata ini pudar pesonanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kehidupan alam semesta saat kini dimungkinkan oleh cinta. Setiap orang berapapun umurnya dan apapun warna kulitnya tak pernah bungkam membicarakan cinta. Lantas apa itu cinta?

Sudah banyak karya maestro-maestro dunia yang mencoba mendedahkan makna cinta. Namun tampaknya dari sekian banyak konseptualisasi cinta, mayoritas sepakat bahwa pembicaraan tentang cinta dapat dibagi dua; cerita cinta semu dan kisah cinta sejati. Cinta semu hanya menonjolkan aspek biologis semata. Sehingga tidak mengherankan jika perbincangan tentang cinta dalam kategori ini akan cepat berhenti dan akan terus berulang lantaran dalam hal ini cinta mengalami penyempitan makna. Berbeda ketika orang membicarakan cinta sejati yakni cinta yang membangun, menginspirasi, sehingga menggairahkan orang untuk terus berbuat kebaikan dan meraih prestasi. Cinta seperti inilah yang dicoba penulis muda Salim A Fillah tawarkan dalam karyanya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku ini berisi kisah-kisah cinta yang terabadikan dalam peradaban Islam. Salah satu di antaranya adalah cerita romansa yang dijalani Layla dan Majnun. Di antara para pejuang cinta kisah klasik sangatlah masyhur. Kecintaan pada pasangannya yang begitu lengket membuat mereka terjebak dalam kegilaan bahkan ada yang menyebutkan keduanya menjelma menjadi seorang yang majnun (gila). Jalan cinta semacam ini kerap terduplikasi oleh generasi-generasi di era kapanpun. Sekarang misalnya kita tidak asing lagi dengan berita orang nekad menenggak racun karena cintanya tertolak.

Ada juga kisah cinta lain yang mengambil dari  sirah nabawiyyah (cerita nabi) dan para sahabat atau orang-orang yang sezaman dan hidup bersama nabi Muhammad. Di antara kisah yang disuguhkan dalam karya Salim A Fillah dalam kategori ini adalah kisah Hamzah yang rela menunda kesenangan di malam pertama dengan istrinya hanya demi mengutamakan perang di jalan Allah. Kisah-kisah dari para khulafa al Rasyidin dan para syuhada lainnya menjadi fokus utama lantaran dimensi insiratifnya. Jadi sembari membaca buku tentang kisah dan cerita cinta, wawasan sejarah peradaban Islam pembaca juga akan bertambah.

Gaya bahasa yang tersusun mengalir dan apik adalah kekuatan karya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang. Kisah-kisah yang disuguhkan pun jauh dari nuansa bertele-tele. Artinya format cerita pendek menjadi model dalam penulisan cerita. Tentu saja pembaca akan semakin dimanjakan lantaran format cerpen akan membuat pembaca tidak “lelah” dalam menemukan inti cerita di setiap penggalan kisah yang disampaikan.

Tampaknya pesan penting yang ingin di sampaikan oleh Salim A Fillah ada dalam penggalan kata-kata berikut “Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”. 

Sumber:Lazuardi Birru

Jejak Kisah Cinta dalam Peradaban Islam

 
Salah satu kata yang akan abadi diperbincangkan adalah cinta. Bertambahnya waktu tidak membuat kata ini pudar pesonanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kehidupan alam semesta saat kini dimungkinkan oleh cinta. Setiap orang berapapun umurnya dan apapun warna kulitnya tak pernah bungkam membicarakan cinta. Lantas apa itu cinta?

Sudah banyak karya maestro-maestro dunia yang mencoba mendedahkan makna cinta. Namun tampaknya dari sekian banyak konseptualisasi cinta, mayoritas sepakat bahwa pembicaraan tentang cinta dapat dibagi dua; cerita cinta semu dan kisah cinta sejati. Cinta semu hanya menonjolkan aspek biologis semata. Sehingga tidak mengherankan jika perbincangan tentang cinta dalam kategori ini akan cepat berhenti dan akan terus berulang lantaran dalam hal ini cinta mengalami penyempitan makna. Berbeda ketika orang membicarakan cinta sejati yakni cinta yang membangun, menginspirasi, sehingga menggairahkan orang untuk terus berbuat kebaikan dan meraih prestasi. Cinta seperti inilah yang dicoba penulis muda Salim A Fillah tawarkan dalam karyanya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku ini berisi kisah-kisah cinta yang terabadikan dalam peradaban Islam. Salah satu di antaranya adalah cerita romansa yang dijalani Layla dan Majnun. Di antara para pejuang cinta kisah klasik sangatlah masyhur. Kecintaan pada pasangannya yang begitu lengket membuat mereka terjebak dalam kegilaan bahkan ada yang menyebutkan keduanya menjelma menjadi seorang yang majnun (gila). Jalan cinta semacam ini kerap terduplikasi oleh generasi-generasi di era kapanpun. Sekarang misalnya kita tidak asing lagi dengan berita orang nekad menenggak racun karena cintanya tertolak.

Ada juga kisah cinta lain yang mengambil dari  sirah nabawiyyah (cerita nabi) dan para sahabat atau orang-orang yang sezaman dan hidup bersama nabi Muhammad. Di antara kisah yang disuguhkan dalam karya Salim A Fillah dalam kategori ini adalah kisah Hamzah yang rela menunda kesenangan di malam pertama dengan istrinya hanya demi mengutamakan perang di jalan Allah. Kisah-kisah dari para khulafa al Rasyidin dan para syuhada lainnya menjadi fokus utama lantaran dimensi insiratifnya. Jadi sembari membaca buku tentang kisah dan cerita cinta, wawasan sejarah peradaban Islam pembaca juga akan bertambah.

Gaya bahasa yang tersusun mengalir dan apik adalah kekuatan karya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang. Kisah-kisah yang disuguhkan pun jauh dari nuansa bertele-tele. Artinya format cerita pendek menjadi model dalam penulisan cerita. Tentu saja pembaca akan semakin dimanjakan lantaran format cerpen akan membuat pembaca tidak “lelah” dalam menemukan inti cerita di setiap penggalan kisah yang disampaikan.

Tampaknya pesan penting yang ingin di sampaikan oleh Salim A Fillah ada dalam penggalan kata-kata berikut “Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”. 

Sumber:Lazuardi Birru

Jumat, 03 Mei 2013

HADIS

 
Secara bahasa hadis berarti percakapan, berita, peristiwa, dan baru. Dalam terminologi agama, yang dimaksud dengan hadis adalah hadis an-nabiyyi, yakni Hadis Nabi.  Hadis Nabi secara bahasa berarti percakapan Nabi, berita tentang Nabi, dan peristiwa yang dilakukan Nabi.

Dalam istilah ilmu hadis, yang dimaksud dengan Hadis An-Nabiyyi (hadis Nabi) adalah perkataan, perbuatan dan ketetap-an Nabi saw., sesudah beliau menjadi Nabi dan Rasul; Substansi hadis terbagi tiga, hadis al-qawli, (perkataan Nabi); hadis al-fi’li (perbuatan Nabi), dan taqrir an-nabiyyi (persetujuan Nabi atas perbuatan sahabat).

Hadis pada masa Nabi Muhammad saw. disimpan dalam memori para sahabat. Berebda dengan Al-Qur`an yang segera dicatat oleh Kuttab al-Wahyi, pencatat wahyu, yang ditunjuk Nabi saw.,  hadis disimpan dalam ingatan para sahabat. Hal ini, karena Nabi saw melarang para sahabat mencatat hadis. Beliau hanya memerintahkan para sahabat agar menghafal dan menyampaikan hadis secara lisan. Walaupun demikian, ada sebagian kecil sahabat yang diizinkan mencatat hadis.

Hadis Nabi saw merupakan sumber kedua dalam Islam yang berfungsi: Pertama,  tibyânan (penjelasan) terhadap maksud Al-Qur`an yang bersifat mujmal (general/ umum). Kedua, tafshîlan (merinci) tata cara pelak-sanaan ‘ibâdah dan mu’âmalah (interaksi sosial, bisnis dan berbagai transaksi). Ketiga, uswatan (model) bagi umat Islam,  terutama melalui hadîts fi’li (sunnah fi’liyah), perbuatan Nabi.

Gerakan tadwin al-hadis, membukukan atau mengkodifikasi hadis, baru dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz (99-101 H). Beliau menulis Surat Edaran kepada para Gubernur agar melakukan tadwîn al-hadîts, sebagai berikut: “Periksalah apa yang ada dari Hadis Nabi saw, lalu tulislah, karena aku khawatir hilangnya ilmu dan meninggalnya ulama. Janganlah engkau terima, kecuali hadis Nabi saw. Sebarkanlah ilmu dan adakan majelis ilmu, sehingga orang yang tidak berilmu menjadi berilmu, karena ilmu itu tidak akan hilang sebelum ia menjadi sesuatu yang rahasia (disembunyikan).

Abu Bakr bin Hazm, Gubernur Madinah, merespon perintah Khalifah Umar bin Abdul Azizi dengan mengangkat Ibn Syihab Az-Zuhri menjadi Ketua Tim Kodifikasi Hadis yang bertugas untuk mengumpulkan hadis, menyeleksi sanad dan matan hadis, kemudian menuliskannya dalam sebuah kitab, yang menjadi karya rintisan dalam ilmu hadis.

Jejak Kisah Cinta dalam Peradaban Islam

 
Salah satu kata yang akan abadi diperbincangkan adalah cinta. Bertambahnya waktu tidak membuat kata ini pudar pesonanya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kehidupan alam semesta saat kini dimungkinkan oleh cinta. Setiap orang berapapun umurnya dan apapun warna kulitnya tak pernah bungkam membicarakan cinta. Lantas apa itu cinta?

Sudah banyak karya maestro-maestro dunia yang mencoba mendedahkan makna cinta. Namun tampaknya dari sekian banyak konseptualisasi cinta, mayoritas sepakat bahwa pembicaraan tentang cinta dapat dibagi dua; cerita cinta semu dan kisah cinta sejati. Cinta semu hanya menonjolkan aspek biologis semata. Sehingga tidak mengherankan jika perbincangan tentang cinta dalam kategori ini akan cepat berhenti dan akan terus berulang lantaran dalam hal ini cinta mengalami penyempitan makna. Berbeda ketika orang membicarakan cinta sejati yakni cinta yang membangun, menginspirasi, sehingga menggairahkan orang untuk terus berbuat kebaikan dan meraih prestasi. Cinta seperti inilah yang dicoba penulis muda Salim A Fillah tawarkan dalam karyanya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang.

Buku ini berisi kisah-kisah cinta yang terabadikan dalam peradaban Islam. Salah satu di antaranya adalah cerita romansa yang dijalani Layla dan Majnun. Di antara para pejuang cinta kisah klasik sangatlah masyhur. Kecintaan pada pasangannya yang begitu lengket membuat mereka terjebak dalam kegilaan bahkan ada yang menyebutkan keduanya menjelma menjadi seorang yang majnun (gila). Jalan cinta semacam ini kerap terduplikasi oleh generasi-generasi di era kapanpun. Sekarang misalnya kita tidak asing lagi dengan berita orang nekad menenggak racun karena cintanya tertolak.

Ada juga kisah cinta lain yang mengambil dari  sirah nabawiyyah (cerita nabi) dan para sahabat atau orang-orang yang sezaman dan hidup bersama nabi Muhammad. Di antara kisah yang disuguhkan dalam karya Salim A Fillah dalam kategori ini adalah kisah Hamzah yang rela menunda kesenangan di malam pertama dengan istrinya hanya demi mengutamakan perang di jalan Allah. Kisah-kisah dari para khulafa al Rasyidin dan para syuhada lainnya menjadi fokus utama lantaran dimensi insiratifnya. Jadi sembari membaca buku tentang kisah dan cerita cinta, wawasan sejarah peradaban Islam pembaca juga akan bertambah.

Gaya bahasa yang tersusun mengalir dan apik adalah kekuatan karya yang berjudul Jalan Cinta Para Pejuang. Kisah-kisah yang disuguhkan pun jauh dari nuansa bertele-tele. Artinya format cerita pendek menjadi model dalam penulisan cerita. Tentu saja pembaca akan semakin dimanjakan lantaran format cerpen akan membuat pembaca tidak “lelah” dalam menemukan inti cerita di setiap penggalan kisah yang disampaikan.

Tampaknya pesan penting yang ingin di sampaikan oleh Salim A Fillah ada dalam penggalan kata-kata berikut “Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga”. 

Sumber:Lazuardi Birru

sUMBE