Sabtu, 29 Juni 2013

DAWUD, NABI

Nabi Dawud a.s. adalah anak bungsu dari tiga belas bersaudara. Ayahnya bernama Yisya. Ia berasal dari Bani Israil. Dalam bahasa  Ibrani, Bani artinya keturunan, dan Israil artinya hamba Allah. Israil adalah gelar kehormatan Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Nabi Dawud  adalah generasi ke-13 dari keturunan Nabi Ibrahim. Mereka bermukim di Betlehem, yang kemudian menjadi kota kelahiran Nabi Isa. Dawud dan dua orang kakaknya ikut berperang melawan Jalut (Goliath) dari Filistin yang menjajah Bani Israil. Menurut Al-Qur`an, dalam perang ini, Dawud berhasil membunuh Jalut. “Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki”. (Q.S. al-Baqarah/2: 251).

Berkat keberhasilan ini, Raja Talut menikahkan Daud dengan putrinya, Mikya dan mengangkatnya menjadi panglima angkatan perang, kemudian menobatkannya menjadi Raja. Nabi Dawud dan putranya, Nabi Sulaiman adalah dua orang yang mendapat empat kehormatan yang anagrga, tidak ternilai harganya. Beliau mendapat mulkiyah, kerajaan; hikmah, pengetahuan yang luas; nubuwah, kenabian dan risalah, kerasulan. Beliau adalah Nabi, Rasul dan Raja. Orang Yahudi hanya mengakui Dawud sebagai raja (King David). Kaum Muslimin meyakini bahwa Nabi Dawud adalah seorang Nabi, Rasul dan Raja sebagaimana Al-Qur`an menjelaskannya.

Nabi Dawud a.s. dikaruniai suara yang sangat merdu. Ketika mendengar Nabi Dawud melagukan ayat-ayat Kitab Zabur, orang dan jin yang sakit menjadi sembuh, burung-burung terbang mendekat, angin menjadi tenang, gunung serta burung bertasbih kepada Allah. Inilah mu’jizat Nabi Dawud a.s.  Al-Qur`an  menyebutkan: “Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Saba/34: 10-11).

Kerajaan Nabi Dawud a.s. dilanjutkan oleh putranya, Nabi Sulaiman a.s. yang berdoa:  “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Q.S. Shad/38: 35). Setelah Nabi Sulaiman wafat Kerajaan Bani Israil mengalami krisis, terpeah belah dan akhirnya hancur.

Sumber: Lazuardi Birru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar