Minggu, 03 November 2013

Jihad

Jihâd secara bahasa berasal dari kata kerja ja-ha-da yang berarti jadda, bersungguh-sungguh dan bekerja keras. Jihâd juga berarti bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mencapai hasil yang optimal. Al-Qur`an menyebut istilah jihâd dengan segala perubahan bentuknya sebanyak 36 kali. Melalui ayat-ayat jihâd pada beberapa surah tersebut Al-Qur`an menjelaskan makna jihâd dengan konteks pembahasan yang beragam, namun semuanya menjelaskan bahwa jihâd menurut Al-Qur`an adalah perjuangan untuk mewujudkan al-salâm,al-salâmah,al-shalâh dan al-ihsân, yaitu perjuangan untuk mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, dan perbaikan kualitas hidup kaum Muslimin sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Perjuangan untuk mewujudkan pesan perdamaian Al-Qur`an ini dinamakan jihâd fî sabîlillâh atau perjuangan pada jalan Allah.

Jihad pada jalan Allah dapat dilakukan dengan dua cara.Pertama dengan perang melawan musuh-musuh Allah. Kedua, dengan memperbaiki kualitas sosial kaum Muslimin seperti: (1) Perjuangan untuk melindungi dhu’afa dari kekufuran, kefakiran, kemiskinan, dan ketertinggalan. (2) Mendorong kaum muslimin untuk mengamalkan agama dengan sebaik-baiknya. (3) Membangun sarana dan prasarana dakwah, pendidikan, pusat penelitian dan pengembangan sains dan teknologi. (4) Membangun kualitas hidup kaum muslimin agar menjadi umat yang cerdas secara intelek, emosi, dan spiritual. (5) Mendorong umat agar peduli terhadap masalah-masalah sosial dan kemanusiaan guna mewujudkan perdamaian bagi seluruh umat. (6) Menyadarkan umat tentang perlunya menjaga kesehatan secara kuratif, preventif dan promotif, agar umat Islam menjadi komunitas yang sehat dan memiliki SDM yang unggul.

Al-Qur`an membimbing kaum Muslimin menjadi umat cinta damai, bahkan menjadi pejuang perdamaian; namun Al-Qur`an pun Muslimin membolehkan kaum Muslimin untuk memerangi siapa saja yang tidak memiliki niat baik untuk berdamai. Perang menurut Al-Qur`an itu merupakan pilihan paling akhir, pintu darurat yang hanya diizinkan apabila kaum Muslimin dizalimi, dan diperlakukan tidak adil. Oleh sebab itu, perang hanya diizinkan untuk membela diri, melindungi kaum dhu’afa dan membela hak-hak kaum tertindas dengan tata cara dan etika perang yang profesional, santun dan ramah dengan tidak melampaui batas (QS. Al-Baqarah/2: 190). Kaum Muslim bukan aggressor. Cinta damai dan bersedia berdamai dengan siapa saja, tetapi memiliki harga diri. Jika dizalimi akan bangkit untuk membela diri, termasuk dengan perang. Perang merupakan alternatif terakhir dan jihad bukan hanya dengan perang.

Sumber: Lazuardi Birru

Selasa, 29 Oktober 2013

Belajar Berbagai Bahasa di Komunitas “Banyak Lidah”


Di era globalisasi seperti saat ini, seseorang dituntut tidak hanya memiliki pendidikan yang tinggi, namun juga diperlukan skill atau kemampuan penunjang lain yang memadai. Salah satunya, memiliki kemampuan berbahasa asing, dimana mahir berbahasa asing memang sangat diperlukan untuk kelancaran berkomunikasi secara global.

Namun, belajar bahasa asing tentu bukanlah hal yang mudah. Kita harus terbiasa berbicara di luar bahasa keseharian kita, belum lagi harus menghafal berbagai kata asing yang kadang sulit diucapkan. Namun, ternyata hal ini tak menghambat banyak orang untuk tetap mempelajari dan menguasai bahasa asing. Contohnya, komunitas yang para anggotanya rata-rata menguasai 5 bahasa yang berbeda ini. Ya, mereka adalah komunitas Polyglot Indonesia, yang berdiri sekitar awal 2012 silam.

Adalah Arradi Nur Rizal, orang yang mendirikan komunitas Polyglot Indonesia ini. “Sebenarnya, di Indonesia komunitas Polyglot pertama kali didirikan di Jogjakarta pada tahun 2010, namun karena kesibukan para anggotanya yang melanjutkan studi ke luar negeri, maka saya berinisiatif untuk menghidupkan kembali komunitas ini,” ujar Rizal.
Istilah ‘polyglot’ sebenarnya digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dengan berbagai macam bahasa, yang diambil dari bahasa Yunani yaitu polýglōttos yang artinya ‘banyak-lidah’.
Menurut Rizal, komunitas ini memang sengaja dibentuk guna dijadikan wadah belajar para anggotanya dalam berbahasa asing. Di komunitas ini, setiap anggotanya bisa mempraktekkan bahasa asing yang mereka minati, melalui pertemuan-pertemuan yang mereka adakan setiap minggunya. Mereka dilatih untuk mempraktekkan bahasa asing dengan suasana yang santai dan fun.
Nah, selain bermanfaat untuk para anggotanya, komunitas Polyglot Indonesia ini juga dijadikan sebagai media untuk mempertemukan orang asing yang ingin mempelajari Bahasa Indonesia dengan para polyglot Indonesia yang mempelajari bahasa mereka. Jadi, bisa dikatakan komunitas ini juga merupakan tempat untuk mendapatkan teman tandem berbahasa, atau languages exchange.
“Di komunitas ini, kita juga sering saling bertukar informasi mengenai beasiswa dan informasi perjalanan,” ujar pria yang saat ini tinggal di Stockholm, Swedia ini.
Dan, siapa yang menyangka, ternyata kemampuan para polyglot di Indonesia sungguh sangat luar biasa, karena ada beberapa anggota komunitas ini yang bahkan bisa menguasai 6 hingga 11 bahasa asing! Dahsyat banget tentunya.
“Selama ini, orang tidak banyak mengetahui kalau banyak sekali orang Indonesia yang polyglot, bahkan hyperpolyglot, contohnya seperti RMP Sosrokartono, kakak RA Kartini yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa daerah Indonesia,” jelas Rizal lagi.
Saat ini, Rizal sendiri dapat berkomunikasi dalam 8 bahasa. Namun, dari keseluruhan bahasa asing tersebut, belum semua bahasa ia dapat kuasai dengan baik. Ada yang sudah lancar, ada yang perlu pemanasan, ada yang cuma survival. Ketertarikan Rizal untuk mendalami bahasa asing bermula saat ia harus bersekolah di luar negeri. Saat itulah ia secara ‘terpaksa’ mendalami bahasa asing guna mempelancar studinya. Namun, lama-kelamaan Rizal pun mulai ‘ketagihan’ untuk mempelajari bahasa asing lainnya, karena hal tersebut dirasakan dapat memberikan manfaat yang lebih bagi dirinya.
Namun, walau dapat menguasai banyak bahasa, Rizal dan kawan-kawan polyglot lainnya menolak untuk dibilang ‘jenius’. Dirinya hanya menganggap, orang yang menguasai banyak bahasa adalah orang yang tekun dan mempunyai disiplin tinggi dalam belajar.
Bagi Anda yang tertarik mengetahui kegiatan komunitas ini bisa langsung join ke group facebook http://www.facebook.com/groups/polyglotindonesia/ dan join forum di website www.polyglotindonesia.org.

Sumber: Lazuardi Birru

Senin, 28 Oktober 2013

Tips Cari Kerja untuk “Fresh Graduate”


Para sarjana yang baru lulus belakangan ini dinilai memiliki kesiapan bekerja yang minim. Psikolog Kassandra Putranto bahkan mengatakan para lulusan fresh graduate itu hanya memiliki kesiapan sebesar 25 persen.

“Tidak semua mahasiswa fresh graduate langsung siap beradaptasi kerja bila minim pengalaman,” kata Kassandra Putranto dalam acara kuliah umum “Sukses Menghadapi Wawancara Kerja” di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Senin lalu.

Sebelum lulus, Kassandra mendorong para mahasiswa untuk melakukan praktik kerja atau magang untuk menambah keahlian saat masih berada di kampus. Magang akan menambah kemampuan para lulusan baru dalam beradaptasi dengan lingkungan dan tugas di tempat kerja baru.
Selain itu, Kassandra memberikan 3 tips bagi para lulusan baru dalam mencari kerja:

1. Jangan terlalu banyak menyebar lamaran kerja
Menurut Kassandra, itu adalah bentuk pemborosan. Dia mendorong para mahasiswa untuk fokus mengirimkan lamaran ke perusahaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing-masing.

2. Berikan kesan terbaik
Saat wawancara oleh bagian personalia, lanjutnya, Kassandra menyarankan untuk memberikan kesan terbaik dengan penampilan yang sopan dan sikap yang ramah.

3. Tunjukkan kemampuan diri
Saat negosiasi penawaran gaji atau honor, Kassandra menuturkan, lulusan baru biasanya “bernilai” antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta. Namun, apabila  telah memiliki keahlian yang telah terbukti selama magang, seseorang bisa melakukan negosiasi.
“Tunjukkan kemampuan diri dengan pengalaman dan skill karena akan memengaruhi nilai pendapatan,” ujarnya.

Sementara itu di UMB, Kepala Pusat UMB Career dan Training Center Wahyu Hari Haji mengatakan, pihaknya juga berupaya membantu calon-calon lulusannya untuk meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri dalam mendapatkan pekerjaan. Penanaman soft skill, nilai etika, dan budaya kerja disampaikan melalui beberapa pelatihan, seperti pelatihan psikotes, teknik wawancara, hingga komunikasi langsung dengan berbagai narasumber dalam kuliah umum.
“Untuk training, kita masukan ke dalam kurikulum sehingga semua mahasiswa merasakannya,” katanya.
“Jadi, mental mahasiswa sudah dibentuk sejak dini,” tambahnya kemudian.
Untuk lulusan baru, Wahyu berpesan agar tidak grogi dalam wawancara kerja. Pasalnya, itu berpengaruh pada hasilnya nanti.
“Grogi muncul karena tidak menguasai skill yang dimiliki dan minim pengalaman,” ujarnya.

Sumber: Lazuardi Birru

Jumat, 25 Oktober 2013

ISLAM DAN BUDAYA DI INDONESIA


Islam pada hakikatnya datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa mudlarat di dalam kehidupanya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

Budaya asing yang masuk ke Indonesia menyebabkan multi efek. Budaya Indonesia perlahan-lahan semakin punah. Berbagai iklan yang mengantarkan kita untuk hidup gaul dalam konteks modern sehingga memunculkan banyaknya kepentingan para individu yang mengharuskan berada diatas kepentingan orang lain.

Akibatnya terjadi sifat individualisme semakin berpeluang untuk menjadi budaya kesehariannya. Ini semua sebenarnya terhantui akan praktik budaya yang sifatnya hanya memuaskan kehidupan semata. Sebuah kebobrokan ketika bangsa Indonesia telah pudar dalam bingkai kenafsuan belaka berprilaku yang sebenarnya tidak mendapatkan manfaat sama sekali jika dipandang dari sudut keislaman. Artinya di zaman sekarang ini manusia hidup dalam tingkat hedonisme yang sangat tinggi berpikir dalam jangka pendek hanya mencari kepuasaan belaka dimana kepuasaan tersebut yang menyesatkan umat Islam untuk berprilaku.
Kebudayaan memperoleh perhatian yang serius dalam Islam karena mempunyai peran yang sangat penting untuk membumikan ajaran utama sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat Islam. Sebagimana paparan di atas bahwa kebudayaan Islam merupakan kebudayaan yang sesuai  dengan nilai-nilai atau norma-norma Islam, maka prinsip-prinsip kebudayaan dalam Islam merujuk pada sumber ajaran Islam yaitu; Pertama, menghormati akal. Manusia dengan akalnya bisa membangun kebudayaan baru. Oleh karenanya kebudayaan Islam menempatkan akal pada posisi terhormat. Kebudayaan Islam tidak akan menampilkan hal-hal yang dapat merusak akal manusia. Prinsip ini diambil dari firman Allah:

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (Q.S.Al-Imran,3:190).
Kedua, memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu. Dengan semakin berkembangnya ilmu seseorang maka dengan sendirinya kebudayaan Islam akan semakin maju. Hal ini senada dengan dengan firman Allah Swt :

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadallah 58:11).

Ketiga, menghindari taklid buta. Kebudayaan Islam hendaknya mengantarkan umat Islam manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti, tidak asal mengikuti orang lain tanpa tahu alasanya, meski dari kedua orang tua atau nenek moyang sekalipun. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt :
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akandiminta pertanggungjawabanya” (Q.S.Al-Isra 17:36).
Keempat, tidak membuat kerusakan. Kebudayaan Islam boleh dikembangkan seluas-luasnya oleh manusia itu sendiri, namun tetap harus mempertimbangkan keseimbangan alam agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah Swt :

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S.Al-Qashash 28:77).

Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk mengolah, mengelola dan memakmurkan bumi tempat dia tinggal. Manusia dipersilahkan untuk mengembangkan kebudayaan sesuai dengan  kapasitasnya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini, tentunya dengan batasan-batasan yang ditetapkan syariat Islam.

Dengan demikian, pesan normatif dan realita sempirik yang hadir dari proses perjalanan sejarah agama ini, telah mendorong penyebarannya yang begitu pesat dan bergerak cepat keberbagai belahan dunia, hingga Islam sebagai ajaran tauhid ini sampai pula dan telah dianut kuat oleh masyarakat Indonesia. Islam bukan hanya mewarnai dan memberi arah perjuangan bangsa ini hingga mencapai kemerdekaannya tetapi lebih jauh Islam merekatkan wilayah-wilayah nusantara dalam kultur keIndonesiaan yang kuat, yang kelak menjadi modal utama integrasi bangsa dan sebagai transformator masyarakat. Ini berarti keislaman dan keindonesiaan telah demikian menyatu.

Persenyawaan keislaman dan keindonesiaan ini telah membangun jati diri bangsa, sehingga tidak bisa dipungkiri dan tidak ada alasan bagi masyarakat bangsa Indonesia ini bersikap gamang dan galau apalagi kehilangan arah dan pegangan dalam menghadapi globalisasi dalam dewasa ini. Karena itu, kini saatnya untuk menggali jati diri kita sendiri sebagai umat muslim Indonesia. Sebab ini akan makin meneguhkan identitas kita sebagai bangsa Muslim terbesar yang berperadaban yang luhur dan berintegritas tinggi. Dengan modal ini maka masyarakat Indonesia ini akan kembali bangkit dengan penuh percaya diri dihadapan globalisasi yang tak terelakkan. Agama memberikan warna pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Sumber: Lazuardi Birru

ISLAM DAN BUDAYA DI INDONESIA


Islam pada hakikatnya datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa mudlarat di dalam kehidupanya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

Budaya asing yang masuk ke Indonesia menyebabkan multi efek. Budaya Indonesia perlahan-lahan semakin punah. Berbagai iklan yang mengantarkan kita untuk hidup gaul dalam konteks modern sehingga memunculkan banyaknya kepentingan para individu yang mengharuskan berada diatas kepentingan orang lain.

Akibatnya terjadi sifat individualisme semakin berpeluang untuk menjadi budaya kesehariannya. Ini semua sebenarnya terhantui akan praktik budaya yang sifatnya hanya memuaskan kehidupan semata. Sebuah kebobrokan ketika bangsa Indonesia telah pudar dalam bingkai kenafsuan belaka berprilaku yang sebenarnya tidak mendapatkan manfaat sama sekali jika dipandang dari sudut keislaman. Artinya di zaman sekarang ini manusia hidup dalam tingkat hedonisme yang sangat tinggi berpikir dalam jangka pendek hanya mencari kepuasaan belaka dimana kepuasaan tersebut yang menyesatkan umat Islam untuk berprilaku.
Kebudayaan memperoleh perhatian yang serius dalam Islam karena mempunyai peran yang sangat penting untuk membumikan ajaran utama sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat Islam. Sebagimana paparan di atas bahwa kebudayaan Islam merupakan kebudayaan yang sesuai  dengan nilai-nilai atau norma-norma Islam, maka prinsip-prinsip kebudayaan dalam Islam merujuk pada sumber ajaran Islam yaitu; Pertama, menghormati akal. Manusia dengan akalnya bisa membangun kebudayaan baru. Oleh karenanya kebudayaan Islam menempatkan akal pada posisi terhormat. Kebudayaan Islam tidak akan menampilkan hal-hal yang dapat merusak akal manusia. Prinsip ini diambil dari firman Allah:

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda ( kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (Q.S.Al-Imran,3:190).
Kedua, memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu. Dengan semakin berkembangnya ilmu seseorang maka dengan sendirinya kebudayaan Islam akan semakin maju. Hal ini senada dengan dengan firman Allah Swt :

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadallah 58:11).

Ketiga, menghindari taklid buta. Kebudayaan Islam hendaknya mengantarkan umat Islam manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti, tidak asal mengikuti orang lain tanpa tahu alasanya, meski dari kedua orang tua atau nenek moyang sekalipun. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt :
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akandiminta pertanggungjawabanya” (Q.S.Al-Isra 17:36).
Keempat, tidak membuat kerusakan. Kebudayaan Islam boleh dikembangkan seluas-luasnya oleh manusia itu sendiri, namun tetap harus mempertimbangkan keseimbangan alam agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah Swt :

”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S.Al-Qashash 28:77).
Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk mengolah, mengelola dan memakmurkan bumi tempat dia tinggal. Manusia dipersilahkan untuk mengembangkan kebudayaan sesuai dengan  kapasitasnya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini, tentunya dengan batasan-batasan yang ditetapkan syariat Islam.

Dengan demikian, pesan normatif dan realita sempirik yang hadir dari proses perjalanan sejarah agama ini, telah mendorong penyebarannya yang begitu pesat dan bergerak cepat keberbagai belahan dunia, hingga Islam sebagai ajaran tauhid ini sampai pula dan telah dianut kuat oleh masyarakat Indonesia. Islam bukan hanya mewarnai dan memberi arah perjuangan bangsa ini hingga mencapai kemerdekaannya tetapi lebih jauh Islam merekatkan wilayah-wilayah nusantara dalam kultur keIndonesiaan yang kuat, yang kelak menjadi modal utama integrasi bangsa dan sebagai transformator masyarakat. Ini berarti keislaman dan keindonesiaan telah demikian menyatu.

Persenyawaan keislaman dan keindonesiaan ini telah membangun jati diri bangsa, sehingga tidak bisa dipungkiri dan tidak ada alasan bagi masyarakat bangsa Indonesia ini bersikap gamang dan galau apalagi kehilangan arah dan pegangan dalam menghadapi globalisasi dalam dewasa ini. Karena itu, kini saatnya untuk menggali jati diri kita sendiri sebagai umat muslim Indonesia. Sebab ini akan makin meneguhkan identitas kita sebagai bangsa Muslim terbesar yang berperadaban yang luhur dan berintegritas tinggi. Dengan modal ini maka masyarakat Indonesia ini akan kembali bangkit dengan penuh percaya diri dihadapan globalisasi yang tak terelakkan. Agama memberikan warna pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama.

Sumber: Lazuardi Birru

Rabu, 23 Oktober 2013

Efektifkah terus menerus merombak kurikulum tanpa didahului perombakan kualitas pendidiknya?

Merombak kurikulum dahulu atau meningkatkan kualitas pendidiknya dahulu? Secara teori manajemen strategik harus disiapkan dulu Sumber Daya Manusianya baru sistemnya. Tetapi kalau dilihat dari perkembangan dan kemajuan pendidikan, era hari ini adalah era sistem, era kualitas Sumber Daya Manusia mestinya sudah dilalui 15 tahun yang lalu.

Indonesia tertinggal dua-duanya, kualitas guru masih buruk, sistem juga masih trial and error. Jika kurikulum terus menerus mengalami perombakan tanpa diimbangi peningkatan kualitas SDM gurunya, jelas tidak efektif, bahkan cenderung akan menambah pemborosan biaya dan menambah praktek KKN dalam rangka mencapai profesionalitas. Mungkin ini masalah terbesar pendidikan kita, sesulit menentukan ‘telur dulu apa ayam dulu’? kurikulum dulu atau kualitas SDM dulu. Mungkin kemendiknas harus bekerja keras, cerdas dan ikhlas untuk mensinergikan keduanya.

 Keduanya dapat berjalan berbarengan dengan membuat target-target yang berkesinambungan dari tahun ke tahun. Program peningkatan kompetensi guru harus menjadi program menyeluruh dan berkelanjutan, sedangkan penerapan kurikulum dapat dilakukan bertahap disesuaikan kompetensi yang sudah dimiliki oleh SDM pendidikan Indonesia.

Sumber: Lazuardi Birru

Selasa, 22 Oktober 2013

Cara Membangun Konsentrasi Belajar



Proses belajar membutuhkan konsentrasi belajar para pelakuknya. Tanpa konsentrasi belajar, maka peristiwa belajar sesungguhnya tidak ada. Namun, tidak sedikit orang yang mengalami masalah atau kesulitan konsentrasi ketika belajar. Tanpa konsentrasi belajar, maka hasil belajar pun tentu sangat rendah atau tidak optimal. Untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi belajar, maka dibutuhkan langkah-langkah berikut:

Kesiapan belajar
Sebelum melakukan aktivitas belajar kita harus benar-benar dalam kondisi fresh (segar) untuk belajar.  Untuk siap melakukan aktivitas belajar ada dua hal yan perlu diperhatikan, yaitu kondisi fisik dan pasikis. Kondisi fisik harus bebas dari gangguan penyakit, kurang gizi dan rasa lapar. Sedangkan kondisi psikis harus steril dari gangguan konflik kejiwaan, tekanan masalah atau ketegangan emosional seperti gelisah, takut, cemas, kecewa, marah dan lainnya. Masalah konflik kejiwaan atau perasaan negatif harus diselesaikan terlebih dahulu. Pikiran harus benar-benar jernih, jika hendak melakukan kegiatan belajar.

Lingkungan belajar harus kondusif
Belajar membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk memperoleh hasil belajar secara optimal. Harus diupayakan tempat dan ruangan yang apik, teratur, dan bersih. Suasana pun harus nyaman untuk belajar.

Menanamkan minat dan motivasi belajar dengan cara mengembangkan imajinasi berpikir dan aktif bertanya
Untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar, maka perlu mengetahui, apa yang dipelajari? Untuk apa mempelajari materi pelajaran yang hendak dipelajari? Apa hubungan materi pelajaran tersebut dengan kehidupan sehari-hari? Bagaimana cara mempelajarinya? Kemudian kembangkan hasrat ingin tahu lebih lanjut dengan cara aktif bertanya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Cara belajar yang baik
Untuk memudahkan konsentrasi belajar dibutuhkan panduan untuk pengaktifan cara berpikir, penyeleksian focus masalah dan pengarahan rasa ingin tahu. Cara belajar yang baik tentu harus memuat tujuan yang hendak dicapai dan cara-cara menghidupkan dan mengembangkan rasa ingin tahu, hingga tuntas terhadap apa yang hendak dipelajari. Tugas kita untuk menemukan cara belajar atau metode belajar yang tepat sesuai dengan karakter kita.

Belajar aktif
Jika kita sulit berkonsentrasi belajar di sekolah atau sulit mengerti apa yang dijelaskan guru, maka kita harus dapat mengembangkan pola belajar aktif. Kita harus aktif belajar dan berani mengungkapkan ketidaktahuan pada guru atau teman. Kita harus membuang rasa sungkan, takut, malu pada guru. Sebab guru tidak akan memberi hukuman pada kita yang proaktif dalam belajar.

Perlu disediakan waktu untuk menyegarkan pikiran saat menghadapi kejemuan belajar
Saat kita menghadapi kesulitan mempelajari materi pelajaran, kadang kala menimbulkan rasa jemu dan bosan untuk berpikir. Jika hal ini terjadi, maka jangan paksakan diri kita untuk terus melanjutkan belajar. Jika dipaksakan akan menimbulkan kepenatan dan kelelahan sehingga menimbulkan antipati untuk belajar. Untuk itu, kita harus menyediakan waktu 5-10 menit untuk beristirahat sejenak dengan mengalihkan perhatian pada hal lain yang bersifat menyenangkan dan menyegarkan atau melakukan relaksasi.
Dengan memperhatikan langkah-langkah tersebut, kita akan terpandu menyusun kerangka berpikir, terarah pada objek yang akan dipelajari secara taktis, metodis dan member keluluasaan mengembangkan pola nalar yang objektif sehingga kesulitan konsentrasi belajar dapat diatasi.

Sumber: Lazuardi Birru